Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Penelitian Ungkap Cara Baru Atasi Sindrom Patah Hati

Ilustrasi: Penelitian Ungkap Cara Baru Atasi Sindrom Patah Hati --(freepik)

BELITONGEKSPRES.COM - Sindrom patah hati atau kardiomiopati takotsubo kembali menjadi sorotan medis setelah sebuah studi terbaru menunjukkan terapi perilaku kognitif dan olahraga pemulihan jantung dapat membantu pasien pulih lebih baik.

Kondisi langka yang menyerang jantung ini kerap muncul akibat stres emosional berat, seperti kehilangan orang tercinta, dan bisa menimbulkan gejala mirip serangan jantung.

Dilansir The Guardian pada Sabtu (6/9/2025), penelitian terbaru menemukan pasien sindrom patah hati berisiko mengalami kematian dini dua kali lipat dibanding populasi umum.

Sindrom ini menyebabkan otot jantung melemah dan berubah bentuk secara tiba-tiba, sehingga memengaruhi kemampuan jantung memompa darah.

BACA JUGA:Merayu Tanpa Gombal: 8 Cara Halus Tapi Ampuh Menyentuh Hati

Dokter Sonya Babu-Narayan, direktur klinis di British Heart Foundation, menjelaskan bahwa takotsubo merupakan kondisi serius yang biasanya muncul di saat pasien sedang berada dalam masa rentan karena peristiwa kehidupan besar.

“Sindrom takotsubo dapat menjadi kondisi menghancurkan, apalagi jika dipicu stres emosional yang berat,” ujarnya.

Belum Ada Obat, Terapi Jadi Solusi

Hingga kini, belum ada obat yang secara khusus bisa menyembuhkan kardiomiopati takotsubo. Namun, untuk pertama kalinya, uji coba terkontrol acak yang dilakukan pada pasien menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) dan program olahraga jantung bisa membawa manfaat signifikan.

Menurut hasil uji coba, CBT khusus dan program olahraga pemulihan jantung yang mencakup berenang, bersepeda, aerobik, serta latihan treadmill terbukti membantu memperbaiki energi jantung pasien.

BACA JUGA:Hati-Hati! Ini 5 Penyebab Toxic Productivity Bikin Sulit Istirahat & Dampak Nyatanya bagi Mental

Dokter David Gamble, dosen klinis kardiologi dari University of Aberdeen yang mempresentasikan hasil riset di kongres tahunan European Society of Cardiology di Madrid, menegaskan bahwa efek sindrom ini tidak bisa diremehkan.

“Pasien bisa terdampak seumur hidup, dan kondisi jantung mereka dalam jangka panjang mirip dengan orang yang selamat dari serangan jantung,” jelasnya.

Detail Uji Klinis

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan