PCO Ingatkan 1 Konten DFK Bisa Melahirkan Sejuta Kebencian
Ilustrasi: Satu Konten DFK Bisa Melahirkan Sejuta Kebencian--(freepik)
JAKARTA, BELITONGEKSPRES.COM – Satu konten berisi disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian (DFK) berpotensi melahirkan sejuta kebencian baru di ruang digital.
Peringatan ini disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), Hariqo Wibawa Satria, usai melihat semakin masifnya peredaran konten DFK di media sosial.
Hariqo mencontohkan, bagaimana percakapan hingga kolom komentar di platform digital langsung memanas setelah muncul video hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang seolah menampilkan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan “guru adalah beban negara”.
Sebelumnya, publik juga sempat digegerkan dengan video deepfake Presiden Prabowo Subianto yang menampilkan narasi palsu seakan-akan menjanjikan bantuan langsung kepada masyarakat.
BACA JUGA:Prabowo Ingatkan Kepala Daerah Tak Remehkan Hukum, Jadikan Kasus Noel Contoh Nyata
"Satu ulasan bermuatan DFK pada sebuah rumah makan bisa membuat ribuan orang enggan lagi berkunjung ke tempat itu. Begitu pula, satu video DFK mampu menimbulkan gelombang kebencian terhadap tokoh agama hingga pemimpin bangsa," kata Hariqo, Kamis (28/8/2025).
“Jika satu peluru hanya bisa merenggut satu nyawa, maka satu disinformasi dapat ‘membunuh’ persaudaraan, meruntuhkan kepercayaan, bahkan mengancam masa depan sebuah bangsa,” sambungnya.
Laporan Risiko Global 2025 yang dirilis World Economic Forum (WEF) menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai ancaman global terbesar keempat. Bahkan, ancaman ini diproyeksikan melonjak menjadi peringkat pertama pada 2027 mendatang.
Laporan tersebut disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 900 pakar internasional dari berbagai sektor, mulai akademisi, pegiat NGO, dunia bisnis, pemerintah, hingga masyarakat sipil.
BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Tidak Lindungi Anggota Gerindra yang Terjerat Kasus Hukum
"Disinformasi, fitnah, dan kebencian atau DFK ini sudah terbukti menghadirkan kesedihan bagi banyak keluarga,” sebut Hariqo.
Dia mencontohkan bagaimana disinformasi dapat membawa dampak nyata bagi kehidupan masyarakat seperti di Amerika Serikat.
Menurut nalisis Kaiser Family Foundation (2022), sekitar 234.000 kematian akibat Covid-19 yang terjadi antara Juni 2021 hingga April 2022 sebenarnya bisa dicegah apabila seluruh orang dewasa telah menerima vaksinasi penuh. Penolakan vaksin, yang banyak dipengaruhi oleh arus disinformasi, menjadi faktor signifikan dalam tingginya angka kematian tersebut.
Contoh lain terlihat dari kerusuhan di Inggris yang berlangsung hampir dua pekan pada Agustus 2024. Peristiwa itu dipicu oleh kabar bohong seputar kasus pembunuhan tiga anak perempuan di Southport pada 29 Juli 2024.