Tarif Impor RI Jadi 19 Persen, Menteri Maman: Dampaknya ke UMKM Sangat Minim
Pemerintah melalui Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman. -Nurul Fitriana-JawaPos.com
BELITONGEKSPRES.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan baru terkait tarif impor barang dari Indonesia. Tarif yang sebelumnya berada di angka 32 persen, kini diturunkan menjadi 19 persen. Meski terdengar signifikan, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyebut dampaknya terhadap pelaku UMKM Indonesia sangat minim. Alasannya, tarif tersebut dibebankan kepada importir asal Amerika, bukan eksportir dari Indonesia.
Maman menegaskan bahwa penurunan tarif ini lebih berdampak langsung pada pelaku usaha di Amerika yang mengimpor produk dari Indonesia. Namun demikian, ia tak menutup kemungkinan adanya efek tidak langsung bagi UMKM nasional, terutama dalam bentuk potensi penurunan volume pesanan.
“Namun kita memang kena impact-nya dari sisi mungkin potensi penurunan jumlah volume pemesanan,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian UMKM, Jumat 18 Juli.
Sejauh ini, menurut Maman, belum ada laporan resmi yang menyebutkan UMKM terdampak secara signifikan oleh kebijakan tarif baru tersebut. Hal ini juga didukung oleh hasil komunikasi lintas kementerian.
BACA JUGA:Indonesia-Kanada Perkuat Kemitraan Dagang, Antisipasi Dampak Tarif Trump ke RI
BACA JUGA:Pelaku Pemukulan Wartawan di Beltim Menyerahkan Diri, 1 Masih Diburu Polisi
“Sampai saat ini sih belum ada laporan ke kami, dan juga dari pembicaraan kami di Kementerian Perdagangan belum ada UMKM yang terdampak langsung. Saya tidak tahu kalau usaha besar ya, mungkin itu bisa ditanyakan ke Kementerian Perdagangan,” imbuhnya.
Penurunan tarif ini sendiri merupakan hasil dari negosiasi panjang antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat dalam beberapa minggu terakhir. Berdasarkan laporan Reuters, tarif impor 19 persen yang dikenakan AS kepada Indonesia bahkan lebih rendah dibandingkan dengan Vietnam yang dikenai tarif sebesar 20 persen. Hal ini mencerminkan hasil diplomasi dagang yang dinilai cukup menguntungkan.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia menyetujui pembelian produk dari AS dalam upaya memperkecil defisit perdagangan antara kedua negara. Pemerintah Indonesia akan membeli produk energi asal AS senilai USD 15 miliar, produk pertanian senilai USD 4,5 miliar, serta 50 unit pesawat Boeing jet.
Langkah ini disebut sebagai win-win solution, di mana Indonesia tetap mendapat akses pasar dengan tarif lebih rendah, sementara AS memperoleh peningkatan volume ekspor ke Tanah Air.
Dengan situasi ini, UMKM Indonesia diyakini masih bisa bersaing di pasar Amerika tanpa hambatan tarif yang berarti. Namun pemerintah tetap akan memantau dampak lanjutan guna mengantisipasi potensi ketidakpastian global. (jpc)