Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Tarif Impor AS ke Indonesia Diproyeksikan Lebih Ringan dari 32 Persen, Negosiasi Masih Berjalan

Presiden AS Donald Trump--(ANTARA/Xinhua/pri)

BELITONGEKSPRES.COM - Indonesia masih memiliki peluang untuk menegosiasikan tarif impor baru dari Amerika Serikat (AS) agar lebih kompetitif dibanding negara tetangga. Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Dimas Ardhinugraha, menilai bahwa keputusan tarif 32% yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump belum final untuk Indonesia, mengingat masih ada ruang diplomasi hingga tenggat waktu 1 Agustus mendatang.

Menurut Dimas, harapan terbesar saat ini adalah agar Indonesia bisa mendapatkan tarif serendah Vietnam, yakni di kisaran 20%. Dengan begitu, produk ekspor Indonesia, terutama di sektor tekstil dan garmen, tetap mampu bersaing di pasar global.

"Harapannya, tarif bisa ditekan ke level yang setara dengan Vietnam agar ekspor kita tetap kompetitif. Negosiasi masih berjalan, jadi peluang itu masih terbuka," ujar Dimas dalam keterangannya, Kamis 10 Juni.

Jika tarif 32% diterapkan penuh tanpa penyesuaian, maka posisi Indonesia bisa melemah dibanding Vietnam. Meski demikian, posisi Indonesia masih lebih baik ketimbang Bangladesh dan Kamboja yang telah dikenakan tarif 35% dan 36% oleh AS, padahal kedua negara itu juga merupakan eksportir utama produk garmen dunia.

BACA JUGA:Dampak Tarif Impor AS 32 Persen, Industri Tekstil RI Terancam PHK Massal

BACA JUGA:Negosiasi Dagang dengan Trump Dinilai Sulit, Indef Soroti Dampaknya bagi Indonesia

Sementara itu, pemerintah Indonesia terus mengupayakan hasil negosiasi terbaik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa diskusi bilateral dengan AS berlangsung positif. Menurutnya, kedua negara telah sepakat untuk melanjutkan perundingan selama tiga minggu ke depan dengan prinsip saling menguntungkan.

“Kita sudah sepaham soal arah negosiasi ini. Prinsipnya, kedua negara sama-sama ingin hasil terbaik yang memberi manfaat ekonomi timbal balik,” ujar Airlangga.

Negosiasi antara kedua negara tidak hanya membahas soal tarif impor, tetapi juga menyentuh isu-isu penting seperti hambatan non-tarif, keamanan ekonomi, kerja sama digital, serta penguatan relasi investasi.

Airlangga juga mengungkap bahwa Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang secara resmi diterima oleh pemerintah AS untuk membahas lebih lanjut perihal tarif tersebut. Pemerintah berharap proses negosiasi ini bisa menghindari tekanan besar terhadap industri padat karya seperti tekstil, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas ke depan. (jawapos)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan