Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ekonomi Hijau Belitung: Peluang yang Terlupakan

Hairul Sandi Mantowi, Mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada-(Dok: Pribadi)-

BELITONGEKSPRES.COM - Di tengah krisis iklim global dan kian menipisnya sumber daya tambang, Belitung sejatinya menyimpan potensi besar yang belum banyak dilirik: ekonomi hijau berbasis ekosistem mangrove. 

Dengan cadangan karbon yang sangat besar, hutan mangrove di Belitung berpotensi menjadi aset strategis dalam perdagangan karbon dunia melalui skema REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).

Sayangnya, peluang ini belum terakomodasi secara serius dalam arah kebijakan pembangunan daerah. Belitung masih terpaku pada model ekonomi lama yang berbasis eksploitasi sumber daya alam. Pertanyaannya, apakah Belitung akan terus tertinggal, atau justru berani mengambil peran sebagai pelopor ekonomi hijau dari wilayah pesisir?

Desakan global untuk menekan laju perubahan iklim dalam beberapa dekade terakhir telah melahirkan berbagai instrumen tata kelola transnasional. Salah satu yang paling menonjol adalah REDD, skema yang menjanjikan insentif finansial bagi negara berkembang untuk menjaga hutannya dan mengurangi emisi karbon.

Namun, di balik narasi pelestarian yang tampak ideal, tersimpan pertanyaan mendasar: siapa yang sesungguhnya diuntungkan dari skema ini? Dan bagaimana posisi tawar masyarakat lokal, khususnya di Belitung, dalam agenda iklim global tersebut?

BACA JUGA:Ketegangan Iran-Israel Picu Lonjakan Harga Minyak, Ekonomi RI Terancam Efek Domino

Masalah Global Tentang Perubahan Iklim

Masa kini para ilmuan global sedang mencari solusi untuk mengatasi perubahan iklim yang disebabkan oleh eksploitasi yang rakus oleh manusia. Dalam penelitian CIFOR (Center for International Forestry Research) 2010 solusi mengatasi perubahan iklim menitikberatkan pada dua aspek yaitu adaptasi dan mitigasi. 

Adaptasi adalah upaya menyesuaikan diri dengan dampak perubahan iklim, seperti curah hujan yang tidak menentu atau suhu ekstrem, agar manusia dan lingkungan tetap bisa bertahan. Sedangkan mitigasi adalah usaha untuk mengurangi penyebab perubahan iklim, terutama emisi gas rumah kaca.

Masih berdasarkan data yang disampaikan CIFOR dalam riset terbarunya menunjukkan bahwa dari 32 milyar ton CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia per tahunnya kurang dari 5 milyar ton diserap oleh hutan. 

Data ini diperkuat dengan pernyataan oleh Erma Yulihastin menyampaikan pendapatnya di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) bahwa dalam 30 tahun terakhir iklim bumi naik mencapai 1,5 derajat celcius  (BRIN, 2023). Kondisi yang mengkhawatirkan ini jika tidak segera diatas dapat memicu perebutan sumber daya yang menyebabkan negara-negara akan berkonflik dan berperang (The Conversation, 2023).

Konsep REDD

Secara konsep, negara-negara di kawasan Selatan (negara berkembang) diberi kompensasi karena memilih untuk tidak menebang hutan, sementara negara-negara di belahan Utara (negara maju) “membayar” utang karbon mereka melalui mekanisme pasar. 

Istilah negara Selatan dan Utara lazim digunakan dalam kajian hubungan internasional dan pembangunan global untuk menunjukkan ketimpangan ekonomi dan politik antarnegara yang berbeda tingkat kemajuannya (Jati, 2012). 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan