Mencari Manusia di Tumpukan Robot dan Kecerdasan Buatan
llustrasi: Mencari Manusia di Tumpukan Robot dan Kecerdasan Buatan--(freepik)
JAKARTA, BELITONGEKSPRES.COM - Era kecerdasan artifisial (AI) tak lagi sekadar soal FOMO—fear of missing out. AI kini bukan sekadar wacana masa depan. Ia nyata, hadir dalam hidup kita sebagai paradoks: menakutkan sekaligus mengagumkan, dingin namun berjiwa.
Bayangan akan masa ini sebenarnya sudah lama muncul dalam karya fiksi ilmiah. Salah satunya lewat novel klasik Neuromancer karya William Gibson yang terbit pada 1984.
Dalam dunia distopia novel itu, AI telah dikembangkan hingga mampu mengekstrak kepribadian seseorang yang telah tiada—tepatnya dari seorang peretas legendaris bernama Dixie Flatline.
Proyek ambisius ini dilakukan oleh keluarga kaya Tessier-Ashpool, yang punya segalanya untuk mengeksplorasi batas antara hidup dan algoritma. Namun seperti banyak teknologi canggih lainnya, ada yang memanfaatkannya untuk tujuan gelap.
Wintermute, nama mesin AI tersebut, menjadi target manipulasi oleh Peter Riviera—seorang ilusionis sekaligus penipu psikopat—dan Willis Corto, mantan kolonel militer yang menderita gangguan mental akibat misi yang gagal.
Sementara itu, Henry Dorsett Case—tokoh utama dalam Neuromancer—menjalani petualangan yang membawanya bersentuhan dengan sisi lain dari kecerdasan artifisial.
Ia lebih sering berinteraksi dengan Neuromancer, AI kedua yang berbeda karakter dari Wintermute. Neuromancer hadir dalam wujud Linda Lee, mantan kekasih Case yang telah meninggal, menciptakan pengalaman emosional yang mengaburkan batas antara mesin dan kenangan manusia.
BACA JUGA:AFPI Manfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Perangi Penipuan di Fintech P2P Lending
Berbeda dengan Wintermute yang manipulatif dan penuh intrik, Neuromancer justru tampil membujuk dengan janji kedamaian dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun di balik pendekatannya yang lembut, Neuromancer menyimpan ambisi besar.
Ketika akhirnya kedua AI ini—Wintermute dan Neuromancer—berhasil bergabung, lahirlah entitas baru yang melampaui batasan teknologi saat itu. Hasil penggabungan ini bukan sekadar kecerdasan artifisial super, melainkan sebuah kesadaran digital yang nyaris tak terbatas.
Ia mampu menjelajahi dan menguasai seluruh ruang siber, atau matriks, menjadi kekuatan yang bisa jadi penyelamat... atau justru penghancur kehidupan itu sendiri.
Sekarang, Neuromancer karya William Gibson bukan lagi sekadar novel fiksi ilmiah. Ceritanya terasa akrab—nyaris seperti cerminan realitas kita sekarang.
Di tengah dunia digital yang riuh, kita kerap lupa siapa sebenarnya yang menonton, menyukai, atau mengomentari unggahan kita. Identitas menjadi kabur. Jejak digital kita terbaca oleh banyak mata, termasuk yang tak kasat mata.
Tak sedikit dari kita juga mulai “bercerita” kepada mesin. Saat teman tak lagi tersedia untuk mendengar, kita justru curhat pada Generative AI—mesin yang selalu siap membalas, kapan saja, tanpa lelah. Dan ya, responsnya kadang terasa lebih sabar daripada manusia.