Mensos Tegaskan Pentingnya DTSEN dan Sekolah Rakyat untuk Warga Miskin
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf (kedua dari kiri) beserta jajaran menerima audiensi 5 kepala daerah di Kantor Kemensos Salemba, Jakarta pada Rabu (21/5/2025)-Biro Humas Kemensos-ANTARA/HO
BELITONGEKSPRES.COM - Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengajak para kepala daerah aktif mendukung program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan lewat pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan pelaksanaan Sekolah Rakyat.
“Saya ingin kita fokus pada dua hal: memberantas kemiskinan dengan memanfaatkan DTSEN agar kebijakan lebih tepat sasaran, serta memutus rantai kemiskinan melalui Sekolah Rakyat,” ujar Mensos Saifullah saat menerima audiensi lima kepala daerah di Kantor Kemensos Salemba, Jakarta, Rabu lalu.
Menurutnya, DTSEN membantu menyatukan data sosial ekonomi penduduk sehingga mengurangi tumpang tindih dan bias, sehingga program pemerintah dapat lebih terarah, konvergen, dan berkelanjutan.
Mensos juga meminta kepala daerah menetapkan target penerima manfaat yang bisa “naik kelas” atau mandiri, tidak lagi bergantung pada bantuan sosial. Penerima yang sudah mandiri akan diarahkan ke program pemberdayaan, seperti bantuan modal usaha dan pelatihan keterampilan, yang juga melibatkan kementerian lain seperti UMKM dan Koperasi.
BACA JUGA:QRIS Akan Bisa Digunakan di Jepang Mulai 17 Agustus 2025, Tiongkok dalam Tahap Akhir
BACA JUGA:OJK Panggil Rupiah Cepat Soal Keluhan Dana Pinjaman Tiba-tiba Masuk Tanpa Pengajuan
Selain itu, program Sekolah Rakyat yang menyelenggarakan pendidikan berasrama gratis untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem diharapkan mampu mencetak lulusan sebagai agen perubahan untuk memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.
Sekolah Rakyat merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, khusus untuk siswa dari desil 1 dan 2 DTSEN. Pada tahun ajaran baru Juli 2025, sebanyak 63 sekolah dengan konsep asrama dan tanpa biaya akan mulai beroperasi.
Sebaran sekolah ini meliputi 34 titik di Pulau Jawa, 13 di Sumatera, 8 di Sulawesi, 3 di Bali dan Nusa Tenggara, 2 di Kalimantan, 2 di Maluku, dan 1 di Papua. (antara)