Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ujian Nyata Kemitraan Indonesia dan Jepang

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen kuat untuk memperdalam hubungan bilateral Indonesia di Istana Akasaka, Tokyo, Jepang, Selasa (31/3/2026)--(Foto: Bakom RI)

Meski demikian, Indonesia perlu pula menjaga kepentingan nasionalnya. Teknologi dan modal asing harus dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas domestik, membangun industri lokal, dan memastikan bahwa manfaat jangka panjang tetap berada di tangan Indonesia.

Keuntungan Terbesar

Dalam jagad ekonomi-politik, ada dikenal istilah value chain control. Negara yang menguasai bagian paling kompleks dari produksi akan mendapat keuntungan terbesar. Mereka menentukan standar dan arah pasar, sementara yang lain mengikuti.

Maka, kalau Indonesia hanya menjadi lokasi produksi, posisi kita tetap rapuh. Kita mudah digantikan oleh negara lain yang lebih murah atau lebih efisien. Daya tawar kita pun terbatas.

Negara tentu tidak cukup hanya membuka pintu investasi. Ia juga harus menetapkan syarat dan prioritas, menentukan sektor apa yang ingin dikembangkan dan teknologi apa yang harus dikuasai.

BACA JUGA:Strategi Dua Arah Hadapi Lonjakan Harga Minyak

Dengan begitu, kebijakan bukan sekadar regulasi, tapi menjadi alat negosiasi untuk melindungi kepentingan nasional dan memastikan investasi benar-benar memberi manfaat jangka panjang.

Kita mungkin bisa belajar dari pengalaman Korea Selatan. Negeri Ginseng itu dulu berada di posisi yang sama seperti Indonesia: punya bahan baku dan pasar, tapi teknologi masih dikuasai negara lain. Korsel kemudian berani menuntut transfer teknologi dan memperkuat industri domestiknya.

Hasilnya bisa kita lihat sekarang. Industri Korea Selatan tangguh dan mandiri. Indonesia memang belum sampai ke tingkat itu, di mana kita bisa menentukan syarat sendiri dan menguasai teknologi inti. Tapi, peluang ke arah sana terbuka lebar.

Saat ini, transisi energi dan digitalisasi sedang berlangsung, membuka jendela kesempatan yang tidak datang dua kali. Kalau bisa dimanfaatkan dengan tepat, Indonesia bisa mengambil posisi yang lebih kuat di masa depan. Kemitraan dengan Jepang dalam hal ini bisa menjadi jembatan penting menuju industrialisasi yang lebih dalam.

Akhirnya, kemitraan Indonesia-Jepang tidak cukup diukur melalui jumlah investasi atau proyek. Fokus utama harus pada perubahan struktur ekonomi kita, yakni dari posisi pasif sebagai konsumen atau lokasi produksi, menuju posisi aktif sebagai pemain strategis yang mampu mengarahkan aliran teknologi, penguasaan sumber daya, dan nilai tambah industri.

*) Djoko Subinarto, kolumnis, alumnus Departemen Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan