Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ketika Henry Ford Menantang Dominasi Yahudi dalam Politik Amerika

Ketika Henry Ford Menantang Dominasi Yahudi dalam Politik Amerika--(Antara)

Pada Desember 1927, menjelang sidang pengadilan, Ford —dengan pertimbangan sidang dapat merusak reputasinya— akhirnya minta maaf, meski ada pendapat menyebutkan permintaan maaf tersebut setengah hati.

Ford memilih menyelesaikan masalah di luar pengadilan dan kemudian menutup surat kabar Dearborn Independent, yang saat itu beroplah sekitar 900.000 eksemplar, terbanyak kedua di Amerika Serikat, setelah The New York Times.

Artikel yang Dibukukan

Henry Ford meninggal dunia di rumahnya dalam usia 83 tahun pada 7 April 1947, akibat pendarahan otak. Namun, pemikiran dan pandangan Ford tentang Yahudi, melalui artikel-artikel di Dearborn Independent, telah terdokumentasi dalam buku The International Jew, yang pertama sekali diterbitkan Dearborn Publishing Company, Mei 1920.

Buku ini sempat terjual lebih dari 10 juta copy, yang didistribusikan secara masif melalui jaringan dealer Ford di seluruh Amerika Serikat. Namun, di negara demokrasi ini, tidak lama setelah diterbitkan, buku yang dianggap kontroversi tersebut diborong dan dimusnahkan kalangan Yahudi. Ford menilai cara-cara tersebut sesuai karakter zionis: dominasi atau hancurkan!

Pada 1952, Gerald L.K. Smith, Direktur Nasional Christian Nationalist Crusade, Los Angeles, menerbitkan kembali buku The International Jew, juga mengalami nasib sama.

Berbeda dengan Amerika Serikat, di sejumlah negara di antaranya Jerman, buku tersebut diterjemahkan pada 1922, juga di Jepang, Italia, Swedia, Norwegia, Polandia, Prancis, dan di negara-negara Arab.

Sedikitnya buku ini telah diterjemahkan dalam 16 bahasa. Di Indonesia, buku The International Jew diterjemahkan dan diterbitkan Penerbit Hikmah dari kelompok Mizan pahun 2006 dengan judul The International Jew: Membongkar Makar Zionisme Internasional.

Dan kini, pertanyaan klasik muncul di saat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang sedang bergejolak: untuk siapa perang ini? Apakah murni untuk kepentingan rakyat AS yang sangat khawatir Iran memiliki senjata nuklir, seperti yang diklaim Presiden Donald Trump sebagai alasan pembenaran?

BACA JUGA:Di Tengah Ketegangan AS, Israel, dan Iran, Pemerintah Kaji Peluang Investasi

Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos, Ahad (1/3) mencatat, sebanyak 43 persen rakyat AS tidak setuju perang ini. Sekitar 27 persen dari 1.282 responden menyatakan setuju, dan sisanya sebesar 29 persen menyatakan tidak yakin. Ini artinya, hanya satu dari empat orang AS yang setuju perang melawan Iran.

Sehari setelah Reuters, jajak pendapat CNN yang dirilis pada Senin (2/3) menunjukkan hasil yang hampir sama. Dalam jajak pendapat tersebut, 59 persen warga Amerika Serikat (AS) tidak setuju tindakan militer terhadap Iran. Sebanyak 41 persen menyatakan setuju. Penolakan keras (31 persen) tercatat hampir dua kali lipat dibanding dukungan kuat (16 persen).

Jika bukan untuk kepentingan rakyat AS, lalu untuk siapa perang ini? Jawaban datang dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio di Gedung Capitol, Selasa (3/3).

Rubio kepada pers mengatakan, AS melakukan serangan udara ke Teheran sebagai tindakan antisipatif setelah Israel diyakini tetap menyerang Teheran. Menurutnya, pasukan AS pasti menjadi sasaran balasan Iran.

"Sudah sangat jelas bahwa jika Iran diserang oleh siapapun –AS atau Israel atau siapapun – Iran akan merespons serangan balasan kepada pasukan AS," ujarnya, dilansir The Guardian, Selasa (3/3).

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan