Jurnalisme Adalah Terapi yang Dibayar
Ilustrasi buatan AI, jurnalis tengah bekerja di ruang redaksi media massa-Sizuka-ANTARA
Dalam perspektif sosiologi profesi, jurnalisme dapat dipahami sebagai bentuk continuous professional learning, proses belajar yang tidak pernah selesai karena medan kerjanya terus berubah.
Donald Schon, dalam gagasannya tentang the reflective practitioner, menjelaskan bahwa profesi yang berhadapan dengan situasi tak pasti menuntut kemampuan refleksi terus-menerus di dalam tindakan.
Jurnalis bekerja dalam ruang semacam itu: informasi datang tidak utuh, waktu terbatas, tekanan hadir bersamaan. Keputusan editorial diambil bukan dari rumus baku, melainkan dari penilaian reflektif yang diasah melalui pengalaman berulang.
Maka metafora “sekolah tanpa bel pulang” menemukan pijakan teoretisnya. Setiap liputan berfungsi sebagai kelas baru; setiap naskah sebagai ujian yang kerap datang mendadak.
Koreksi redaktur bukan sekadar penyuntingan teknis, melainkan mekanisme evaluasi, rapor atas cara berpikir, ketepatan sudut pandang, dan ketahanan argumen.
Proses ini membentuk habitus profesional, yang meminjam istilah Pierre Bourdieu, tertanam melalui praktik harian, bukan melalui ceramah normatif.
Sekolah ini tidak memiliki kurikulum eksplisit tentang kerja emosional. Padahal, Arlie Hochschild mengingatkan bahwa banyak profesi modern menuntut emotional labor: kemampuan mengelola perasaan agar selaras dengan tuntutan peran.
BACA JUGA:Menkomdigi Siapkan Perpres Penggunaan AI untuk Aktivitas Jurnalistik
Jurnalis diharapkan empatik tanpa larut, kritis tanpa sinis, dan objektif tanpa beku. Keseimbangan itu dipelajari secara implisit, melalui koreksi, teguran, dan pengalaman lapangan, bukan melalui modul resmi.
Tekanan kecepatan di era digital mempertebal kompleksitas tersebut. Ruang refleksi menyempit, sementara tuntutan akurasi tetap tinggi.
Di sinilah kerja belajar jurnalis menjadi berlapis: ia belajar fakta, belajar konteks, sekaligus belajar mengatur ritme berpikirnya sendiri.
Sekolah tanpa bel pulang ini tidak menawarkan kelulusan, hanya kompetensi yang terus diuji. Dan justru karena itu, jurnalisme menuntut kesiapan mental yang kerap luput dari pengakuan formal.
Terapi yang dibayar
Menyebut jurnalisme sebagai terapi tidak berarti menganggapnya obat mujarab. Terapi bekerja dengan batas, durasi, dan kesadaran akan risiko.
Penting untuk berhenti sejenak dari romantisasi bahwa kelelahan adalah tanda pengabdian, atau bahwa luka batin adalah prasyarat profesionalisme. Jurnalisme tidak menuntut penderitaan; ia menuntut ketepatan.
Upah dan honorarium memang menandai relasi kerja yang sah, namun yang lebih menentukan adalah kompensasi simbolik: kesempatan untuk terus mempertanyakan, memperbaiki penilaian, dan menjaga integritas proses.