Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Menghadirkan Ayah di Ruang Pendidikan: Ikhtiar Kecil untuk Masa Depan Indonesia

Jamilah Rachmaningsih, S.Pd M.Si - Guru SMA Negeri 1 Manggar--

BELITONGEKSPRES.COM - Di tengah perubahan sosial, teknologi, dan tantangan pendidikan yang semakin kompleks, muncul sebuah gerakan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Gerakan ini dikenal sebagai Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah. 

Sekilas, gerakan Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah pada hari Jumat, 19 Desember 2025 terlihat seperti kegiatan biasa pada momentum pembagian rapor. Namun sesungguhnya, ia membawa pesan sosial yang kuat tentang keterlibatan ayah dalam kehidupan pendidikan anak.

Selama bertahun-tahun, tanggung jawab pendidikan kerap dilekatkan pada ibu. Banyak keluarga menempatkan ayah hanya sebagai penopang ekonomi yang sibuk dengan urusan pekerjaan dan kerap tidak sempat hadir secara emosional di rumah. 

Di beberapa wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pola ini berlangsung begitu lama hingga menjadi budaya yang dianggap wajar. Pada hari pembagian rapor, yang datang biasanya ibu. Yang berkomunikasi dengan guru juga ibu. Yang mengisi buku penghubung pun hampir selalu ibu.

Padahal berbagai peristiwa sosial menunjukkan bahwa absennya figur ayah bisa meninggalkan celah emosional dan psikologis dalam diri anak. Banyak anak dan remaja tumbuh tanpa ruang dialog bersama ayah. Mereka tidak memiliki tempat bercerita, mengadu, atau berdiskusi tentang masa depan. Ayah hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional dan edukatif.

Dalam konteks modern, fenomena ini semakin jelas. Banyak keluarga mengalami tekanan ekonomi. Ada ayah yang bekerja jauh dari rumah. Ada ayah yang pulang hanya untuk tidur karena pekerjaan menguras energi. 

BACA JUGA:AI dan Ilusi Kepintaran di Pendidikan Indonesia: Tantangan Generasi Pintar Tanpa Berpikir

Ada ayah yang merasa tidak perlu terlibat dalam pendidikan karena menganggap sekolah dan ibu sudah cukup menangani. Pola ini menciptakan ruang kosong yang besar antara ayah dan anak.

Di sinilah Gerakan Ayah Mengambil Rapor tampil sebagai ruang refleksi. Ia menjadi ajakan simbolis sekaligus nyata agar ayah hadir secara utuh dalam dunia pendidikan anak. Bukan hadir sebagai tamu. Bukan hadir sebagai penonton. Tetapi hadir sebagai bagian penting dalam proses tumbuh kembang mereka.

Latar Belakang Sosial dan Psikologis

Indonesia sedang menghadapi tantangan anak dan remaja yang semakin luas. Ada krisis identitas. Ada penurunan motivasi belajar. Ada masalah kontrol diri. Ada tekanan media sosial. Ada kecemasan akademik. Banyak dari mereka mencoba menavigasi hidup dengan rasa bingung, gelisah, dan terputus dari keluarga. 

Fenomena fatherless semakin terlihat. Tidak selalu berarti sang ayah pergi dari rumah. Fatherless juga terjadi ketika ayah tinggal di rumah, tetapi tidak pernah benar-benar berkomunikasi.

Anak tumbuh tanpa merasa dibimbing. Tidak merasa dituntun dan tidak merasakan pelukan emosional dari seorang ayah. Di Bangka Belitung, situasi ini diperkuat oleh budaya patriarki yang masih kuat. 

Ayah diposisikan sebagai sosok otoritatif yang tegas, tetapi tidak dialogis. Anak bicara kepada ayah hanya soal larangan atau aturan. Bukan soal perasaan. Bukan soal harapan. Bahkan bukan soal cita-cita.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan