Harapan di Tengah Program MBG di Perbatasan NKRI
Tim Dokkes Polda Kepri mengecek kadungan bahan kimia yang ada di dalam menu MBG yang siap untuk didistribusikan kepada 3.978 penerima manfaat di Kecamatan Nongsa Kota Batam, Kepri, Selasa (4/11/2025)-Laily Rahmawaty-ANTARA
Setelah menu MBG dimasak tidak lantas dimasukkan ke dalam omprengan, tetapi diangin-anginkan dulu setengah jam, baru di kemas dalam omprengan. Teknik ini dilakukan untuk menghindari basi pada makanan.
Kepala Dapur SPPG Nongsa 3 Batu Besar Eva Andriani menyebut, meski jam memasak MBG sudah dimulai dari jam 3 pagi, tetapi dipastikan hidangan tersebut terhindari dari kerusakan atau basi. Karena menerapkan SOP untuk keamanan panganya. Dimulai dari pemilihan bahan bakunya yang dikirim setiap jam 12 siang sehingga segar, kemudian dapur SPPG berkoordinasi dengan sekolah untuk memperhatikan jam makan siswa.
Memasak di jam 3 dikarenakan jumlah penerima manfaat yang banyak. Satu SPPG Nongsa 3 Batu Besar memasok untuk 3.978 penerima manfaat, terdiri atas 17 sekolah dan lima posyandu.
Dapur SPPG telah berkoordinasi dengan pihak sekolah. Saat mengirimkan omprengan juga menerima Berita Acara (BA) dan menyampaikan bahwa makanan MBG tersebut baiknya dikonsumsi dalam waktu empat jam, sehingga sekolah bisa menyesuaikan jam konsumsinya, agar tidak melebihi batas waktu empat jam.
BACA JUGA:Guruku Sayang, Guruku (Jangan Sampai) Malang
Menu MBG diantar ke sekolah untuk trip pertama pukul 07.20 WIB, dan jam 08.30 WIB sudah bisa dikonsumsi untuk siswa kelas 1,2 ,3 dan TK. Siangnya di antar pukul 08.30 WIB dan bisa dikonsumsi di jam 10.00 WIB atau pada waktu jam istirahat.
Selain itu, Dapur SPPG Nongsa 3 Batu Besar yang dikelola oleh Yayasan Bhayangkari Polda Kepri dilengkapi tim gizi dan tim dokter kesehatan kepolisian (dokkes) yang bertugas memeriksa menu MBG yang telah selesai di masak. Pemeriksaan makanan (tes food) untuk mengecek kadar kandungan berbahaya pada makanan. Pemeriksaan dilakukan 2x dalam sehari.
Begitu juga dengan pemilihan bahan utama, tim gizi SPPG sebelum menggunakan bahan baku yang dikirimkan, mereka melakukan wawancara dengan suplair terkiat apa bahan baku yang digunakan, di mana produksinya, dan sebagainya.
Hampir tiga bulan beroperasi, Eva menyebut belum ada laporan terkait keracunan makanan yang terjadi di wilayah tersebut. Bahkan hampir semua omperangan kembali dalam keadaan kosong atau sudah disantap habis oleh siswa.
SPPG Nongsa 3 Batu Besar Polda Kepri juga mengakomodir permintaan siswa apabila minta ganti menu atau menambah porsi nasi dan yang terkait dengan alergi. Menu disusun setiap harinya untuk dua pekan dan setiap hari menunya berbeda.
BACA JUGA:Dilema Buah Simalakama: Perlindungan Guru Vs Perlindungan Siswa
“Respon siswa terhadap menu MBG yang kami sediakan adalah penyemangat buat saya dan relawan dapur SPPG, sehingga kami tidak kerepotan bila ada permintaan siswa,” kata Eva.
Polri dan SPPG
Berdasarkan catatan SPPG Regional Kepri, hingga Oktober 2025 telah terbentuk 131 dapur SPPG di seluruh kabupaten/kota di negeri Melayu tersebut, yang melayani 388.523 penerima manfaat.
Dari 131 SPPG itu tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Di Kota Batam sebanyak 85 dapur, Karimun 21 dapur, Tanjungpinang sembilan dapur, Bintan delapan dapur, Natuna lima dapur, Anambas dua dapur dan Lingga satu dapur.
Dapur SPPG Nongsa 3 Batu Besar salah satu dari 85 dapur yang beroperasi di Kota Batam, yang diawasi langsung oleh Polda Kepri. Targetnya ada 12 dapur SPPG yang akan dibangun oleh Korps Bhayangkara di daerah perbatasan NKRI itu.