Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

TKA 2025: Masa Depan Pendidikan yang Tergesa-gesa?

Mangifera Indica Juarsyah, S.Pd.,Gr. Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Manggar--(Dok: Pribadi)

BACA JUGA:Satu Rumah Satu Sarjana Antarkan Asa Mengenyam Pendidikan Tinggi

Jika ditinjau dari perspektif kebijakan publik, TKA tampak lebih sebagai proyek pemerintah semata yang digulirkan demi melanjutkan narasi reformasi pendidikan pasca Ujian Nasional. Kebijakan ini memang membawa pesan ideal pemerataan asesmen, peningkatan kualitas, dan transparansi hasil belajar.

Namun, minimnya kesiapan implementasi justru dapat berbalik arah, menimbulkan dampak negatif berupa kecemasan siswa, kebingungan guru, serta ketidakpastian sekolah dalam mengarahkan proses belajar.

Kritik ini bukan berarti menolak TKA secara keseluruhan, melainkan menyoroti perlunya tahapan implementasi yang lebih realistis. Pendidikan bukan sekadar soal proyek besar yang diumumkan melalui siaran pers, melainkan soal kehidupan nyata jutaan siswa yang harus menyesuaikan langkah mereka di jalan yang baru ditentukan.

Solusi yang paling tepat saat ini adalah melakukan penundaan terhadap implementasi penuh TKA untuk kelas akhir. Kebijakan ini sebaiknya diterapkan terlebih dahulu pada angkatan baru, yaitu kelas X tahun ajaran 2025/2026. Dengan demikian, siswa memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan pilihan mata pelajaran sejak awal sesuai syarat TKA.

Selain itu, perlu ada integrasi kurikulum dan asesmen yang lebih jelas. Kurikulum Merdeka tidak boleh berjalan sendiri tanpa keterhubungan dengan format TKA. Pemerintah harus memastikan bahwa pemilihan mata pelajaran dalam Kurikulum Merdeka sudah dipetakan secara konsisten dengan kebutuhan akademik TKA. Dari sisi akses, pemerataan fasilitas dan informasi menjadi kunci.

Simulasi TKA, perangkat pembelajaran, serta sosialisasi regulasi harus menjangkau seluruh sekolah, termasuk di wilayah 3T. Pendampingan guru BK juga perlu diperkuat agar siswa dapat memahami konsekuensi dari setiap pilihan akademiknya.

Setelah penundaan, pemerintah sebaiknya melakukan uji coba terbatas (pilot project) di sejumlah sekolah dari berbagai daerah. Hasil evaluasi dari uji coba ini akan memberikan gambaran realistis tentang kesiapan siswa, guru, dan sekolah menghadapi TKA.

Kemendikdasmen melalui BSKAP juga perlu membuka ruang umpan balik partisipatif dari siswa, guru, dan orang tua. Keterlibatan publik akan memastikan bahwa TKA tidak hanya menjadi proyek birokrasi, tetapi juga lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.

Lebih jauh, TKA seharusnya diposisikan sebagai bagian dari sistem asesmen holistik, bukan sekadar tes akademik. Integrasi dengan asesmen karakter, keterampilan abad ke-21, serta proyek-proyek pembelajaran nyata perlu dikembangkan agar pendidikan tidak terjebak pada pengukuran kognitif semata.

TKA 2025 adalah cermin baru yang ditempatkan oleh negara di ruang pendidikan nasional. Cermin ini diharapkan mampu memantulkan wajah sejati kualitas akademik bangsa. Namun, jika dipasang secara tergesa-gesa, cermin itu justru akan retak, menampilkan bayangan kabur yang membuat siswa, guru, dan sekolah kehilangan arah.

Agar cermin ini benar-benar kokoh, pemerintah perlu memastikan fondasinya kuat. Pendidikan adalah perjalanan panjang, bukan proyek instan. Memburu hasil cepat justru berisiko menjerumuskan generasi muda pada kebingungan baru. Oleh sebab itu, kebijakan TKA harus diletakkan dalam kerangka waktu yang matang, agar ia sungguh-sungguh menjadi alat ukur yang adil, inklusif, dan bermakna bagi masa depan pendidikan Indonesia.

*) Mangifera Indica Juarsyah, S.Pd.,Gr. Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Manggar

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan