HUT RI: Rawat Nasionalisme Lewat Budaya Gotong Royong
Sejumlah warga membentangkan Bendera Merah Putih dalam aksi gerakan pembagian gratis Bendera Merah Putih di obyek Desa Wisata Bukit Cinta Danau Rawa Pening, Dusun Kebondowo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/8/2025)--(Antara)
Di tengah aktivitas gotong royong itu, terjalin interaksi hangat antarwarga. Mereka saling berbincang, membahas hal-hal ringan yang selama ini terlewatkan akibat kesibukan masing-masing. Momen ini menjadi ruang sosial yang jarang tercipta di hari-hari biasa.
Kebersamaan tersebut semakin menguat saat waktu istirahat tiba. Warga duduk bersama, menikmati secangkir kopi atau teh hangat, ditemani makanan ringan dan canda tawa yang mengalir begitu saja. Di situlah rasa persaudaraan tumbuh, mempererat ikatan sosial yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan, menciptakan kebersamaan seperti ini bukanlah perkara mudah. Kesibukan harian dan ritme hidup yang serba cepat seringkali membuat interaksi sosial antarwarga menjadi terbatas. Namun, datangnya bulan Agustus seolah menjadi ruang khusus yang memfasilitasi pertemuan, mempererat hubungan, sekaligus merawat budaya gotong royong yang mulai tergerus zaman.
Dalam kegiatan kerja bakti menyambut HUT RI, tak hanya para lelaki dewasa yang terlibat. Kaum ibu yang akrab disebut emak-emak, juga ambil bagian dengan menyiapkan konsumsi bagi para bapak yang bergelut membersihkan lingkungan. Kerja sama ini menunjukkan bahwa gotong royong bukan hanya tentang fisik dan tenaga, tetapi juga soal perhatian, kepedulian, dan peran kolektif yang saling melengkapi.
Menariknya, anak-anak kecil pun kerap ikut serta, meski hanya sebatas menyaksikan orang tuanya bekerja. Di momen inilah, tanpa disadari, terjadi proses penting: transfer nilai-nilai sosial dan budaya. Anak-anak menyaksikan langsung bagaimana orang dewasa saling membantu, berbagi tugas, dan bekerja bersama demi kebaikan lingkungan.
BACA JUGA:Abolisi dan Amnesti bagi Tom dan Hasto dari Sisi Yuridis-Sosial
Lewat pengalaman itu, generasi muda menyerap nilai luhur kebersamaan, memahami pentingnya menjalin hubungan baik antartetangga, serta menanamkan bahwa semangat gotong royong adalah bagian dari jati diri bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.
Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-80 Republik Indonesia tahun ini mengusung tema nasional "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju." Tema ini tidak muncul begitu saja, melainkan berakar pada nilai-nilai fundamental yang telah lama menjadi roh bangsa kita—yakni persatuan.
Semangat kebersamaan bukan sekadar simbol atau slogan, melainkan landasan utama dalam membangun kedaulatan dan mencapai kesejahteraan bersama. Persatuan adalah syarat mutlak agar bangsa ini mampu bergerak maju secara kolektif, tidak hanya dalam hal politik dan ekonomi, tetapi juga dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Namun, penting untuk disadari bahwa memajukan bangsa dan mewujudkan kesejahteraan rakyat tidak cukup hanya dengan menunjukkan solidaritas dalam kegiatan gotong royong saat membersihkan lingkungan menjelang HUT RI. Jiwa gotong royong yang tampak setiap bulan Agustus itu harus terus hidup dan diterapkan dalam setiap aspek kehidupan: setiap hari, di segala tempat, dan oleh semua kalangan.
Kebersamaan dan semangat kolektif harus menjadi panduan dalam setiap langkah pembangunan bangsa. Di tingkat paling dasar, seperti lingkungan RT dan RW, hingga skala nasional, nilai saling peduli dan menomorsatukan kepentingan bersama harus terus dijaga. Hanya dengan itulah cita-cita besar Indonesia Maju dapat benar-benar diwujudkan, oleh rakyat yang bersatu dan berdaulat.
BACA JUGA:Amnesti, Abolisi, dan Ujian Demokrasi Digital Era Prabowo
Jika semangat kebangsaan dan jiwa nasionalisme senantiasa menjadi pedoman bersama, maka setiap amanah yang diemban tidak akan diselewengkan demi kepentingan pribadi. Segala bentuk tanggung jawab akan dijalankan dengan satu tujuan utama: kemaslahatan dan kemajuan bangsa secara keseluruhan.
Di masa lalu, para pahlawan berjuang dengan fisik dan senjata demi mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Kini, tantangan generasi masa kini jauh berbeda. Perjuangan hari ini adalah melawan egoisme, mengalahkan kecenderungan mementingkan diri sendiri dan menggantikannya dengan semangat kolektif yang menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya.
Nilai-nilai kejujuran, integritas, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama harus mulai ditanamkan sejak dini. Pendidikan karakter semacam ini idealnya dimulai dari lingkungan terkecil: keluarga. Orang tua memiliki peran sentral dalam membentuk kepribadian anak, yang kemudian diperkuat oleh lingkungan sekitar dan didukung oleh sistem pendidikan yang konsisten mengajarkan nilai-nilai kebangsaan.