Tunaikan Ibadah Kurban Tanpa Perlu Mengorbankan Lingkungan
Warga Majlis Tafsir Al Quran (MTA) menyiapkan paket daging kurban saat perayaan Idul Adha 1446 Hijriah di Pusat Penyembelihan Hewan Kurban MTA Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (6/6/2025)--(ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Pengelolaan limbah yang tertib dan edukasi kepada masyarakat tentang pelaksanaan kurban yang berkelanjutan juga perlu ditingkatkan.
Selain persoalan teknis pelaksanaan, ibadah kurban juga menyingkap tantangan yang lebih besar, yaitu belum terintegrasinya prinsip keberlanjutan dalam kebijakan keagamaan dan tata kelola lingkungan kota.
Setiap tahun, ribuan ekor hewan disembelih dalam waktu bersamaan, menyebabkan lonjakan limbah organik yang jika tidak dikelola dengan benar dapat mencemari air tanah, menimbulkan bau tidak sedap, dan menjadi sumber penyakit.
Hal ini diperburuk oleh minimnya fasilitas penyembelihan yang memenuhi standar kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Momentum Hari Raya Idul Adha ini, seharusnya bisa menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan budaya sadar lingkungan, dimulai dari hal-hal kecil, seperti penggunaan kemasan alternatif berbahan alami dan pengelolaan limbah berbasis komunitas.
BACA JUGA:Angkasa Pura Salurkan Hewan Kurban di Belitung Lewat Program Injourney Airport Berbagi Qurban 2025
Pendidikan publik juga memegang peran penting. Di berbagai masjid dan komunitas, penyuluhan mengenai tata cara kurban yang ramah lingkungan belum menjadi bagian dari program dakwah.
Padahal, pesan-pesan keagamaan bisa menjadi sarana efektif untuk membangun kesadaran ekologis umat. Ceramah yang mengaitkan ibadah dengan etika lingkungan, bukan hanya memperluas makna spiritualitas, tetapi juga memperkuat daya dorong perubahan perilaku kolektif.
Lebih jauh lagi, pendekatan saintifik dan kebijakan publik perlu dipertemukan dalam kerangka kurban berkelanjutan. Misalnya, pemerintah daerah dapat menyusun panduan teknis pelaksanaan kurban berdasarkan kajian lingkungan dan kesehatan masyarakat, dengan dukungan akademisi dan aktivis ormas Islam.
Kolaborasi semacam ini dapat memunculkan standar operasional baru, di mana aspek kebersihan, efisiensi logistik, hingga pelestarian lingkungan menjadi bagian dari tata kelola ibadah.
Pemerintah daerah, tokoh agama, panitia kurban, dan masyarakat luas perlu bersinergi untuk menciptakan sistem pelaksanaan kurban yang higienis, tertib, dan ramah lingkungan.
Penyusunan regulasi teknis, pembinaan terhadap panitia kurban, hingga penyediaan fasilitas penyembelihan yang sesuai standar menjadi kebutuhan mendesak setiap menjelang Idul Adha.
Idul Adha bukan hanya momen spiritual, tetapi juga waktu reflektif untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Jika nilai-nilai keimanan diiringi dengan tindakan nyata menjaga lingkungan, maka kurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, melainkan juga menjadi cermin komitmen kita terhadap keberlanjutan hidup.
Sudah saatnya ibadah kurban menjadi teladan, bahwa agama dan pelestarian lingkungan bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan satu kesatuan nilai yang saling menguatkan.
*) Dr Rimun Wibowo adalah dosen Ilmu Lingkungan dan Wakil Dekan Fakultas Teknik dan Sains Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor