Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Mengawal Momentum Surplus APBN April 2025

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pemaparan pada konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (23/5/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom-BAYU PRATAMA S-ANTARA FOTO

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia pada April 2025 kembali mencatatkan surplus, sebuah capaian yang patut diapresiasi di tengah tekanan eksternal dan dinamika perekonomian domestik.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, surplus APBN per April 2025 mencapai Rp90,8 triliun atau setara dengan 0,39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pencapaian ini bukan hanya mencerminkan kinerja fiskal yang positif, tetapi juga mengindikasikan bahwa pemerintah berhasil menjaga keseimbangan antara pendapatan dan belanja negara.

Konteks global juga memberi tekanan yang tidak ringan. Di tengah ketidakpastian akibat konflik geopolitik, pengetatan moneter oleh bank sentral global, dan perlambatan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama seperti China dan Uni Eropa, banyak negara menghadapi pelebaran defisit fiskal.

Amerika Serikat misalnya, melaporkan defisit fiskal sebesar 6,3 persen terhadap PDB pada kuartal pertama 2025, sementara Jepang terus mencatat rasio utang terhadap PDB di atas 250 persen. Di kawasan ASEAN, Thailand mencatatkan defisit fiskal 2,7 persen, dan Filipina sebesar 4,1 persen hingga April 2025. Sehingga dalam konteks ini, keberhasilan Indonesia menjaga surplus anggaran menjadi pencapaian yang signifikan dalam tekanan ekonomi secara global.

BACA JUGA:Kehidupan Kedua Sampah Plastik jadi Furnitur Cantik

Selain itu, beberapa negara menerapkan stimulus fiskal tambahan untuk menjaga momentum ekonomi domestik. Pemerintah India, misalnya, menggelontorkan tambahan subsidi pertanian dan infrastruktur sebesar 30 miliar dolar AS pada awal 2025, yang memperbesar tekanan anggaran mereka.

Sementara itu, negara-negara Eropa menghadapi kenaikan beban subsidi energi akibat harga gas dan minyak yang belum sepenuhnya stabil. Di tengah semua ini, Indonesia menempuh jalur yang relatif moderat dengan menajamkan belanja prioritas tanpa meningkatkan beban fiskal secara drastis.

Kinerja tiga tahun terakhir

Dalam tiga tahun terakhir, tren kinerja APBN menunjukkan dinamika yang mencerminkan adaptasi pemerintah terhadap perubahan global dan kebutuhan domestik. Pada April 2023, pendapatan negara tercatat sebesar Rp1.000,5 triliun atau sekitar 41,6 persen dari target APBN tahun tersebut. Capaian ini cukup tinggi, terutama karena didorong oleh lonjakan harga komoditas global seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO), serta pemulihan ekonomi pascapandemi.

Namun pada periode sama 2024, pendapatan negara sedikit menurun menjadi Rp1.000,1 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh koreksi harga komoditas dan mulai melambatnya aktivitas ekspor-impor seiring dengan pelemahan permintaan global. Meski demikian, pemerintah masih berhasil menjaga momentum penerimaan negara melalui optimalisasi PNBP dan penguatan kepatuhan pajak.

BACA JUGA:Ragam Robot di China

Memasuki April 2025, tren positif kembali terlihat. Pendapatan negara tumbuh menjadi Rp1.152,3 triliun atau 38 persen dari target tahun 2025. Pertumbuhan ini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada harga komoditas, melainkan didukung oleh reformasi struktural, digitalisasi sistem perpajakan, dan integrasi data wajib pajak. Peran sektor jasa dan UMKM juga meningkat sebagai kontributor penerimaan negara yang lebih berkelanjutan.

Dari sisi belanja, pada April 2023 realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp765,8 triliun. Pemerintah saat itu masih dalam masa transisi dari kebijakan pemulihan ekonomi, dengan belanja difokuskan pada penanganan pandemi dan pemulihan sektor kesehatan serta sosial. Kemudian pada April 2024, belanja meningkat menjadi Rp843,4 triliun, seiring peluncuran berbagai program stimulus baru dan bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat.

Pada April 2025, belanja negara kembali meningkat secara signifikan menjadi Rp1.061,5 triliun. Meskipun angka ini lebih tinggi, namun tetap mencerminkan belanja yang terkendali karena diarahkan secara selektif untuk program prioritas seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), subsidi energi, serta program pendidikan dan kesehatan. Pemerintah juga melakukan efisiensi dengan mengurangi belanja yang kurang produktif dan memaksimalkan teknologi untuk pengawasan dan akuntabilitas anggaran.

Dari aspek keseimbangan primer, APBN mencatatkan surplus sebesar Rp234,7 triliun pada April 2023, lalu menurun menjadi Rp156,7 triliun pada April 2024, dan kembali turun ke Rp90,8 triliun pada April 2025. Penurunan ini wajar terjadi dalam proses konsolidasi fiskal, mengingat pemerintah mulai mengembalikan defisit ke batas di bawah 3 persen PDB setelah masa pelebaran akibat pandemi. Namun, keberlanjutan surplus, meskipun dalam jumlah yang menurun, tetap mencerminkan pengelolaan fiskal yang disiplin dan adaptif.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan