Likes dan Views, Mata Uang Baru di Dunia Digital?
Ares Faujian-Istimewa-
BELITONGEKSPRES.COM - Di era digital ini, "likes" dan "views" di media digital laksana mata uang baru yang menentukan status sosial dan ekonomi penggunanya. Di dunia digital yang berdenyut tanpa henti, ”jempol dan mata” bisa lebih bernilai daripada emas dan berlian. Kita hidup di era ketika angka di balik layar ”likes, views, and shares” bukan sekadar statistik, tetapi kapital simbolik yang menentukan eksistensi dan pengaruh seseorang.
Jika dahulu kekayaan diukur dengan tanah, emas, atau gelar akademik, kini algoritma dan perhatian publik telah menciptakan sistem nilai baru yang tak kalah kuasanya. Apakah kita sedang menyaksikan transformasi sosial dalam bentuk "ekonomi atensi"?
Dalam sosiologi, fenomena ini bisa dibaca dari kacamata Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis yang dikenal dengan teori modal sosial, kultural, ekonomi, dan simbolik. Likes dan views pada konten media digital atau sosial dapat dikategorikan sebagai modal simbolik, yakni pengakuan sosial yang dapat ditransformasikan menjadi kekuasaan, status, bahkan pendapatan nyata.
Modal simbolik dalam teori Pierre Bourdieu merujuk pada bentuk modal yang tidak berwujud, seperti kehormatan, prestise, dan pengakuan, yang diakui secara sosial dan dapat memengaruhi posisi sosial seseorang dalam masyarakat. Bourdieu menekankan bahwa modal simbolik acap kali disalahpahami sebagai atribut pribadi, padahal sebenarnya merupakan hasil dari hubungan sosial di mana individu terlibat. (Mead, 2020; Demidova, 2024).
BACA JUGA:RUU KUHAP Kuatkan Peran Advokat untuk Perlindungan HAM
Selebriti digital, seperti kreator Khaby Lame, yang hanya dengan ekspresi wajah dan tanpa kata mampu mengumpulkan lebih dari 81 juta followers di Instagram dan 163 juta pengikut di Tiktok (data April 2025), adalah bukti nyata bagaimana modal simbolik di ruang digital bisa menaikkan status sosial, popularitas dan penghasilan melalui konten-konten video yang dihasilkan. Termasuk kreator digital terkenal IShowSpeed yang pernah berkunjung ke Indonesia.
Sebenarnya, sebagian masyarakat modern telah terjebak dalam sistem teknologi yang mereduksi keragaman berpikir. Likes dan views pada media digital bisa menjadi alat kontrol baru, di mana manusia lebih sibuk mencari validasi sosial daripada menggali jati diri.
Hal ini tampak dalam fenomena oversharing di media sosial, di mana identitas dibangun bukan dari keaslian, tetapi dari performativitas digital atau isu viral di media sosial. Sehingga ada beberapa konten yang sengaja dibuat-buat hanya untuk menaikkan likes dan views atau pun panjat sosial (pansos) dari isu-isu tersebut. Walaupun ada juga yang memang riil membagikan keaslian pada kesehariannya.
Oversharing adalah perilaku di mana individu membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial, acap kali tanpa menyadari dampak potensialnya (Sigalingging et al., 2023; Natasya & Yulianita, 2023).
BACA JUGA:Pascatarif, Trump Versus Powell akan Jadi Guncangan Global Berikutnya?
Oversharing biasanya melibatkan konten yang bersifat emosional atau pribadi, yang dapat mencakup pembaruan status yang terlalu sering atau informasi yang terlalu mendetail tentang kehidupan pribadi (Kumar, 2021; Radović et al., 2017). Bahkan ada beberapa kreator digital yang mengalami pencurian/ perampokan di rumahnya gegara ia terlalu mengekspos kondisi lingkungan rumah dan aktivitas langsungnya (live) di media sosial.
Konsep McDonaldization yang diperkenalkan oleh George Ritzer menggambarkan proses di mana prinsip-prinsip yang digunakan oleh restoran cepat saji McDonald's diterapkan pada berbagai aspek kehidupan sosial, termasuk masyarakat modern. Konsep ini menyoroti empat dimensi utama, yaitu efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol (Soron, 2013; Nicholson, 2015; Verhoeven, 2015).
George Ritzer melalui konsep McDonaldization menjelaskan bahwa dunia modern cenderung mengutamakan efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol. Likes dan views pada media digital adalah bentuk kalkulasi sosial yang instan.
Konten yang "ramah algoritma" kadang lebih dihargai daripada yang mendalam dan reflektif. Misalnya, video edukatif berdurasi panjang di YouTube kerap kalah saing dibanding video singkat berdurasi 20-60 detik yang menghibur namun dangkal.