Wamen Haji: Persiapan Haji 2026 Masuk Tahap Akhir, Katering dan Transportasi Sudah 100 Persen
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak-Erfan Maruf-Beritasatu.com
BELITONGEKSPRES.COM - Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak memastikan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026 telah memasuki tahap akhir dan berjalan sesuai rencana. Sejumlah komponen utama seperti katering dan transportasi bahkan telah selesai sepenuhnya.
Menurut Dahnil, saat ini pemerintah berada pada tahap penyelesaian administrasi, termasuk dokumentasi serta pengaturan dan pemisahan kuota jemaah. Di sisi teknis, kebutuhan layanan di Makkah dan Madinah hampir seluruhnya terpenuhi.
“Akomodasi sudah 90%, dan insyaallah setelah Lebaran ini sudah 100%. Katering sudah 100%, transportasi juga 100%,” ujar Dahnil di Jakarta, Kamis 26 Februari 2026.
Dengan progres tersebut, pemerintah kini fokus pada persiapan simulasi pergerakan jemaah saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna. Tahap ini dinilai krusial karena menyangkut mobilitas jutaan jemaah dalam waktu yang relatif singkat.
Dahnil menjelaskan fase puncak haji berlangsung sekitar tujuh hari. Pemerintah ingin memastikan alur pergerakan dari Arafah ke Muzdalifah hingga Mina berjalan lancar, terutama dari sisi transportasi agar tidak terjadi hambatan pergerakan.
BACA JUGA:Menhaj Irfan Yusuf Tinjau Kesiapan Layanan Haji 2026 di Arab Saudi
BACA JUGA:Kemenhaj Pastikan Dapur Konsumsi Haji di Mekkah Penuhi Standar Kebersihan dan Cita Rasa Indonesia
“Puncak haji itu berlangsung sekitar 7 hari. Kami ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik, terutama terkait transportasi agar tidak terjadi bottleneck atau kemacetan,” jelasnya.
Ia mengakui pengaturan lalu lintas dan tata kelola saat puncak haji sangat dipengaruhi kebijakan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Risiko kepadatan dan kemacetan pergerakan jemaah menjadi perhatian utama setiap tahun.
“Biasanya di puncak haji yang paling kita khawatirkan adalah bottleneck yang menyebabkan jamaah terpaksa berjalan kaki,” katanya.
Karena itu, Dahnil mengingatkan seluruh petugas haji untuk menjaga kondisi fisik. Ketahanan fisik dinilai menjadi faktor penting agar pelayanan kepada jemaah tetap optimal di tengah potensi kepadatan dan mobilitas tinggi di lapangan.
“Petugas harus kuat secara fisik. Kalau tidak, mereka tidak akan mampu memberikan pelayanan maksimal kepada jamaah,” tegasnya. (beritasatu)