Basarnas Tutup Operasi SAR Korban Pesawat ATR 42-500 di Sulsel
Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii (tengah) didampingi jajaran pejabat terkait saat konferensi pers penutupan Operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Kantor Basarnas Kelas A Makassar, Kompleks Bandara Hasanuddin, Sulawesi Selatan, -Darwin Fatir-ANTARA
BELITONGEKSPRES.COM - Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan operasi SAR pencarian 10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, resmi ditutup pada hari ketujuh, Jumat malam.
Penutupan operasi dilakukan setelah tim menemukan tujuh body pack, enam berisi jenazah utuh dan satu berupa potongan tubuh, yang kemudian diserahkan ke tim DVI untuk proses identifikasi.
Sebelumnya, empat kantong jenazah telah dikirim ke Posko DVI Biddokes Polda Sulsel di Makassar, di mana tiga korban telah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarganya, sementara satu kantong masih dalam proses identifikasi.
“Cuaca hari ini cukup baik. Hari pertama kondisi cuaca sangat sulit. Hari kedua ditemukan korban pertama, hari ketiga korban kedua, dan hari ini seluruh korban berhasil dievakuasi,” ujar Syafii dalam konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, Sulawesi Selatan.
Meskipun operasi SAR ditutup, Basarnas menegaskan kesiagaan tetap dilakukan. Jika sewaktu-waktu ditemukan serpihan pesawat atau bagian tubuh korban, operasi akan dilanjutkan secara rutin oleh Kantor Basarnas Makassar.
BACA JUGA:KNKT Mulai Selidiki Penyebab Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Milik Indonesia Air Transport
BACA JUGA:10 Kecelakaan Pesawat Paling Mematikan di Indonesia, Rute Jakarta–Pangkalpinang Masuk Daftar
Hingga kini, total 11 body pack telah diserahkan ke Posko DVI Biddokes Polda Sulsel. Dari jumlah tersebut, tiga kantong telah teridentifikasi dan diserahkan ke keluarga, sementara tujuh body pack yang ditemukan terakhir diserahkan ke DVI. Tim DVI memastikan dari 11 kantong tersebut terdapat 10 jenazah.
Selain evakuasi jenazah, Basarnas juga menyerahkan dua unit black box kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk penyelidikan penyebab kecelakaan.
Syafii menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk TNI AD, TNI AU, TNI AL, Polda Sulsel, relawan SAR, dan masyarakat yang membantu pencarian korban.
Hingga saat ini, DVI telah mengidentifikasi tiga korban, yakni Florencia Lolita Wibisono, pramugari pesawat, Deden Maulana, ASN Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Esther Aprilita Binarsit Sianipar, pramugari pesawat.
Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (AIT) membawa 10 orang dengan rute Yogyakarta-Makassar dan mengalami kecelakaan di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan pada Senin, 17 Januari 2026. (ant)