Google Buka Suara soal Dugaan Korupsi Pengadaan Chromebook 2019-2022
google--google
BELITONGEKSPRES.COM - Google merilis pernyataan resmi menanggapi keterlibatannya dalam kasus dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2019–2022. Perusahaan menegaskan tidak memproduksi atau menjual Chromebook langsung kepada pelanggan akhir maupun menentukan harga perangkat.
Menurut Google, peran mereka terbatas pada pengembangan sistem operasi Chrome dan pemberian lisensi serta alat pengelolaan kepada mitra. Proses pengadaan perangkat sepenuhnya dikelola oleh produsen peralatan asli atau original equipment manufacturers (OEM) dan mitra lokal, sehingga Kementerian Pendidikan tetap memegang kendali penuh.
Pernyataan resmi ini diterbitkan melalui blog resmi Google dan disebarluaskan ke media Indonesia pada Jumat malam, 9 Januari 2026. Google menekankan misi mereka menyediakan teknologi kelas dunia yang hemat biaya untuk mendukung pembelajaran siswa dan guru di seluruh Indonesia.
Kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook ini menyeret mantan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, dengan dugaan kerugian negara mencapai Rp2,1 triliun. Google menegaskan bahwa Chromebook merupakan perangkat nomor satu untuk pendidikan K-12 secara global, dengan lebih dari 50 juta siswa dan pendidik menggunakannya di seluruh dunia.
BACA JUGA:Kasus Chromebook, Nadiem Didakwa Rugikan Negara Rp2,18 Triliun
BACA JUGA:Jaksa Sebut Nadiem Jalankan Pengadaan Chromebook untuk Kepentingan Bisnis Pribadi
Di Indonesia, Chromebook digunakan oleh jutaan siswa dan guru, termasuk di wilayah terluar, dengan lebih dari 80.000 sekolah memanfaatkan perangkat ini untuk mendukung pembelajaran digital. Google menjelaskan bahwa Chromebook dapat beroperasi secara offline sehingga proses belajar tetap berjalan meskipun tanpa koneksi internet. Perangkat ini juga memenuhi persyaratan Kementerian Pendidikan dan panduan pengadaan lokal, termasuk dukungan infrastruktur seperti router dan verifikasi kelistrikan.
Google menegaskan pendekatan serupa telah berhasil diterapkan di berbagai negara, mulai dari Brasil hingga Jepang, untuk mendukung akses pendidikan di daerah terpencil. Namun, perusahaan menekankan kembali bahwa mereka tidak memproduksi atau menjual Chromebook secara langsung kepada pengguna akhir. Perusahaan hanya memberikan lisensi sistem operasi dan alat pengelolaan kepada mitra, sedangkan pengadaan perangkat keras tetap dikelola oleh OEM dan mitra lokal.
Selain itu, Google mengonfirmasi investasi mereka di Gojek antara 2017–2021, sebagian besar sebelum Nadiem Makarim menjabat sebagai Mendikbudristek. Google menekankan investasi tersebut tidak terkait dengan kerja sama pendidikan atau produk yang diberikan ke Kemendikbudristek.
Google juga menegaskan tidak pernah menjanjikan, menawarkan, atau memberikan imbalan apa pun kepada pejabat Kemendikbudristek terkait penggunaan produknya. Semua kerja sama dan implementasi perangkat dijalankan secara transparan dan sesuai regulasi pengadaan yang berlaku. (jpc)