Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Perang AS vs Iran Habiskan Hampir Rp15 Triliun per Hari

Ilustrasi dolar AS dan rupiah. -Reno Esnir-Antara

BELITONGEKSPRES.COM - Perang antara Amerika Serikat dan Iran memicu biaya militer yang sangat besar bagi pemerintah Washington. Analisis lembaga riset Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran dapat menghabiskan hampir 900 juta dolar AS per hari atau sekitar Rp15,21 triliun dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS.

Dalam laporan tersebut, CSIS menyebut sebagian besar biaya operasi militer yang dinamakan Epic Fury bahkan belum sepenuhnya tercatat dalam anggaran resmi pemerintah Amerika Serikat.

Pada fase awal operasi, biaya militer yang dikeluarkan dalam 100 jam pertama diperkirakan mencapai sekitar 3,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp62,53 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,5 miliar dolar AS atau setara Rp59,15 triliun belum tercantum dalam alokasi anggaran resmi.

Analis CSIS mencatat bahwa pada 5 Maret, ketika operasi memasuki hari keenam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberi sinyal bahwa konflik tersebut berpotensi berlangsung selama beberapa pekan.

BACA JUGA:Mendag Budi Santoso: Konflik Iran Berpotensi Ubah Peta Perdagangan Global

BACA JUGA:Dorongan dan Tekanan Dunia untuk Deeskalasi Konflik Israel-AS-Iran

Seiring berlangsungnya operasi militer, biaya perang yang sangat besar mulai menjadi sorotan di Amerika Serikat. Anggota Kongres, media, hingga publik mulai mempertanyakan besarnya pengeluaran yang harus ditanggung pemerintah untuk konflik tersebut.

CSIS memperkirakan rata-rata biaya operasi militer pada fase awal konflik mencapai sekitar 891,4 juta dolar AS per hari atau sekitar Rp15,07 triliun.

Menurut laporan tersebut, biaya operasi di masa mendatang sangat bergantung pada intensitas pertempuran dan respons militer Iran.

“Pergeseran pasukan AS ke amunisi yang lebih murah dan penurunan tajam peluncuran pesawat tak berawak dan rudal Iran akan menurunkan biaya. Namun, biaya di masa depan sebagian besar akan bergantung pada intensitas operasi dan efektivitas pembalasan Iran,” tulis CSIS.

Operasi militer Epic Fury diluncurkan Amerika Serikat pada 28 Februari dengan dukungan Israel. Serangan tersebut menargetkan kemampuan militer Iran, termasuk program nuklir yang selama ini dikembangkan Teheran.

 

Situasi konflik semakin meningkat setelah laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas kurang dari sehari setelah serangan pertama dilancarkan.

Operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengembangkan program nuklir sekaligus mengurangi kekuatan militernya di kawasan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan