Update AI Google Translate Bikin Heboh, Pengguna Sebut Bisa Diajak Ngobrol
Google Translate mode Advanced picu fenomena unik karena bisa menjawab pertanyaan layaknya chatbot, akibat celah AI yang gagal membedakan teks dan instruksi-Google-
BELITONGEKSPRES.COM - Pembaruan teknologi kecerdasan buatan pada Google Translate memunculkan fenomena baru di kalangan pengguna. Sejumlah pengguna melaporkan bahwa fitur terbaru pada mode Advanced membuat layanan penerjemah tersebut dapat merespons pertanyaan layaknya chatbot, bukan hanya menerjemahkan teks seperti fungsi utamanya.
Fenomena ini pertama kali ramai dibahas melalui unggahan pengguna di media sosial X. Dalam sejumlah kasus, Google Translate dengan mode Advanced aktif tidak melakukan penerjemahan, melainkan memberikan jawaban langsung atas pertanyaan yang dimasukkan pengguna. Respons tersebut bahkan menyerupai penjelasan yang biasa diberikan asisten berbasis AI.
Perilaku ini umumnya terjadi ketika teks yang dimasukkan sudah menggunakan bahasa target. Misalnya, saat pengguna menulis pertanyaan seperti “Apa tujuanmu diciptakan?”, sistem tidak menerjemahkan kalimat tersebut, tetapi menjawab dengan penjelasan mengenai dirinya sebagai model bahasa yang dikembangkan Google.
Mode Advanced sendiri merupakan fitur baru yang diperkenalkan pada 2026 sebagai bagian dari peningkatan teknologi AI Google. Fitur ini dirancang untuk menghasilkan terjemahan yang lebih alami dan kontekstual dengan memanfaatkan model Gemini.
Namun kemampuan memahami konteks yang lebih luas dinilai turut memicu respons di luar fungsi penerjemahan.
BACA JUGA:ChatGPT Capai 2,5 Miliar Permintaan Per Hari, Tantang Dominasi Google
BACA JUGA:ChatGPT Bakal Terapkan Iklan, OpenAI Pastikan Tak Pengaruhi Jawaban
Secara teknis, fenomena ini disebut sebagai prompt injection. Dalam sistem AI modern, model bahasa harus memahami konteks sebelum memproses teks. Permasalahan muncul ketika sistem tidak dapat membedakan secara jelas antara teks yang seharusnya diterjemahkan dan instruksi yang dianggap perlu dijawab.
Analisis menunjukkan bahwa Google Translate kini menggunakan model bahasa besar atau large language model yang memiliki kemampuan pemahaman konteks tinggi.
Meski demikian, pengaturan pengaman yang bertujuan menjaga fungsi utama sebagai alat penerjemah dinilai masih memiliki celah sehingga batas antara penerjemah dan sistem percakapan menjadi kurang tegas.
Hingga saat ini Google belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Bagi sebagian pengguna, fitur ini dianggap menarik, namun bagi pengguna profesional yang membutuhkan hasil terjemahan akurat, kondisi ini berpotensi menimbulkan gangguan.
Pengguna yang ingin menghindari respons serupa disarankan menggunakan kembali mode Classic pada pengaturan aplikasi. Mode ini menggunakan sistem penerjemahan konvensional yang lebih konsisten sehingga fungsi utama Google Translate sebagai alat penerjemah tetap terjaga. (beritasatu)