Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Virus Nipah Jadi Ancaman, Ini Cara Mencegah Penyebarannya Menurut Ahli dan WHO

Sejumlah negara memperketat pengawasan untuk mencegah penyebaran virus Nipah yang tengah merebak--Humas Bandara Internasional Suvarnabhumi./via AP

BELITONGEKSPRES.COM - Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah munculnya kasus di Benggala Barat, India. Sejumlah negara di kawasan Asia, termasuk Nepal, Thailand, dan Indonesia, kini meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara internasional guna mencegah penyebaran virus mematikan tersebut.

Pakar epidemiologi dan dinamika penyakit menular dari London School of Hygiene & Tropical Medicine dan Universitas Nagasaki, Kaja Abbas, menyebut virus Nipah sebagai penyakit berisiko tinggi bagi manusia. 

Infeksi virus ini dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan sistem saraf, yang pada tahap berat berkembang menjadi ensefalitis akut atau peradangan otak.

“Tingkat kematian kasusnya tinggi, antara 40 dan 75%, di antara orang yang terinfeksi virus Nipah,” kata Abbas dalam wawancara dengan Al Jazeera, dikutip Sabtu (31/1/2026).

BACA JUGA:Waspada Ancaman Virus Nipah, Barantin Perkuat Benteng di Perbatasan

BACA JUGA:Jangan Abaikan, Kenali 7 Gejala Awal Kanker Tiroid yang Jarang Disadari

Menurut Abbas, masa inkubasi virus Nipah di dalam tubuh manusia umumnya berlangsung antara lima hingga 14 hari. Gejala awal biasanya muncul dalam waktu tiga hingga empat hari setelah terpapar, diawali dengan demam dan sakit kepala.

Untuk kasus yang parah, pasien membutuhkan perawatan suportif intensif di fasilitas kesehatan. Abbas menekankan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah utama, di antaranya menjaga kebersihan, memastikan sirkulasi udara yang baik, menghindari kerumunan, tetap berada di rumah saat sakit, segera mencari bantuan medis, serta menerapkan pola hidup sehat guna memperkuat daya tahan tubuh.

World Health Organization (WHO) juga telah mengeluarkan pedoman pencegahan penyebaran virus Nipah. Dalam laporan tahun 2018, WHO menyoroti pentingnya mengurangi interaksi antara kelelawar dengan getah pohon kurma serta produk makanan segar lainnya.

“Menjauhkan kelelawar dari tempat pengumpulan getah dengan penutup pelindung seperti penutup bambu dapat membantu,” tulis WHO dalam laporannya.

WHO juga menyarankan agar sari pohon kurma yang baru dikumpulkan direbus sebelum dikonsumsi. Selain itu, buah-buahan perlu dicuci bersih dan dikupas, serta buah yang menunjukkan bekas gigitan kelelawar sebaiknya tidak dikonsumsi.

BACA JUGA:Studi Terbaru: Olahraga Aerobik Berpotensi Menjaga Usia Otak Lebih Muda Secara Biologis

BACA JUGA:5 Kebiasaan Sepele yang Melemahkan Enamel Gigi, Membuat Gigi Rentan Rusak

Penggunaan sarung tangan dan pakaian pelindung juga direkomendasikan saat menangani hewan sakit, jaringan tubuh, proses penyembelihan, maupun pemusnahan hewan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan