Studi Terbaru: Olahraga Aerobik Berpotensi Menjaga Usia Otak Lebih Muda Secara Biologis
Ilustrasi Otak--freepik
BELITONGEKSPRES.COM - Sebuah studi terbaru yang dilakukan tim peneliti dari AdventHealth Research Institute dan University of Pittsburgh menemukan bahwa aktivitas olahraga aerobik rutin berpotensi membuat usia otak tampak lebih muda secara biologis.
Penelitian tersebut bertujuan menilai apakah olahraga mampu mengubah struktur fisik otak dan apakah perubahan tersebut dapat terdeteksi melalui hasil pemindaian otak. Temuan ini disampaikan dalam laporan yang dikutip dari Eating Well pada Selasa 27 Januari waktu setempat.
Dalam studi ini, peneliti merekrut 130 orang dewasa sehat berusia 26 hingga 58 tahun untuk mengikuti uji klinis acak tersamar tunggal selama 12 bulan. Para peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok latihan aerobik intensitas sedang hingga berat dan kelompok kontrol yang diminta mempertahankan tingkat aktivitas fisik mereka seperti biasa.
Peserta dalam kelompok latihan menjalani dua sesi olahraga berdurasi 60 menit setiap pekan di bawah pengawasan laboratorium. Selain itu, mereka juga menambahkan latihan mandiri di rumah sehingga total aktivitas aerobik mencapai sekitar 150 menit per minggu.
BACA JUGA:Penelitian Ungkap Dampak Insomnia terhadap Penuaan Otak dan Fungsi Kognitif
BACA JUGA:5 Aktivitas Sehari-hari untuk Menjaga Kesehatan Otak dan Mempertajam Daya Ingat
Jenis aktivitas yang dilakukan meliputi berjalan, jogging, atau berlari di treadmill, serta menggunakan sepeda statis, mesin elips, atau alat dayung. Intensitas latihan dipantau secara ketat menggunakan alat pemantau detak jantung sepanjang masa penelitian.
Pada awal dan akhir studi, struktur otak peserta dievaluasi menggunakan pemindaian MRI. Peneliti juga mengukur kebugaran kardiorespirasi melalui tes pengambilan oksigen puncak atau VO2peak. Dengan bantuan perangkat pembelajaran mesin bernama brainageR, peneliti menghitung selisih usia otak yang diprediksi atau brain-PAD pada masing-masing peserta.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sport and Health Science menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara kedua kelompok setelah 12 bulan. Peserta kelompok olahraga mengalami penurunan usia otak yang terukur, dengan tampilan otak sekitar 0,6 tahun lebih muda dibandingkan kondisi awal.
Sebaliknya, kelompok kontrol justru menunjukkan kecenderungan peningkatan usia otak sekitar 0,35 tahun, meskipun perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Ketika kedua kelompok dibandingkan secara langsung, selisih usia otak hampir mencapai satu tahun dan menguntungkan kelompok yang rutin berolahraga.
Selain itu, kelompok olahraga juga mencatat peningkatan kebugaran yang signifikan. Peneliti menemukan bahwa tingkat kebugaran yang lebih tinggi sejak awal studi berkaitan dengan tampilan otak yang lebih muda.
BACA JUGA:Neurorestorasi: Metode Medis Modern untuk Pulihkan Otak dan Tubuh Pasca Stroke
BACA JUGA:7 Hobi yang Bisa Membuat Otak Lebih Tajam, Dari Membaca hingga Meditasi
Meski demikian, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Peserta penelitian merupakan sukarelawan yang relatif sehat dan berpendidikan, dengan jumlah sampel yang tergolong moderat. Pandemi COVID-19 juga memengaruhi pelaksanaan studi karena sebagian peserta harus melanjutkan latihan dari rumah selama masa pembatasan aktivitas.