Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ekonom Ungkap Penyebab Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS

Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta--(ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

BELITONGEKSPRES.COM - Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat dipicu kombinasi tekanan global dan domestik.

Menurut Josua, kondisi tersebut membuat investor asing lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset-aset berdenominasi rupiah.

Ia menjelaskan faktor global utama yang menekan rupiah berasal dari kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

“Dua faktor tersebut efeknya terhadap ekonomi kita relatif cenderung lebih besar dibandingkan mungkin dengan negara-negara lain. Sehingga dampaknya pun relatif lebih cepat terhadap nilai tukar rupiah kita,” ujar Josua dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar virtual di Jakarta, Selasa.

Josua mengatakan Indonesia termasuk negara dengan ketergantungan impor energi yang cukup tinggi sehingga lebih sensitif terhadap lonjakan harga minyak dan arus keluar modal asing.

BACA JUGA:Menkeu Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi untuk Jaga Rupiah

Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi meningkatkan beban impor sekaligus menekan stabilitas fiskal nasional. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut mendorong investor global menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Salah satunya terkait penantian hasil MSCI Index Review periode Mei 2026 yang diumumkan pada Selasa waktu New York atau Rabu waktu Indonesia.

Dalam peninjauan tersebut, MSCI menerapkan aturan lebih ketat terkait High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi.

Kebijakan itu dinilai berpotensi memengaruhi sejumlah saham besar di Indonesia yang memiliki free float terbatas sehingga dapat mengalami penyesuaian bobot dalam indeks global.

Menurut Josua, kondisi tersebut turut memengaruhi sentimen investor terhadap pasar saham dan obligasi Indonesia.

Tekanan lain juga berasal dari penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody's Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun.

BACA JUGA:Purbaya Nilai BI Bisa Dorong Penguatan Rupiah ke Level Rp15.000

“Kita bisa lihat bahwa rentetan risiko global ditambah lagi ada penilaian ataupun peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif terhadap risk appetite investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah kita,” kata Josua.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan