Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Mentan Ungkap 3 Strategi Utama Wujudkan Swasembada Gula 2027

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menjawab pertanyaan awak media ditemui usai rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026)-Harianto-ANTARA

BELITONGEKSPRES.COM - Pemerintah menyiapkan tiga strategi utama untuk mewujudkan swasembada gula paling lambat 2027, mulai dari peremajaan lahan tebu, pengendalian impor, hingga revitalisasi industri gula nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan pemerintah fokus pada tiga langkah strategis untuk memperkuat produksi gula dalam negeri, yakni program bongkar ratoon, kebijakan larangan dan pembatasan impor, serta revitalisasi industri gula nasional.

"Tiga strategi utama pemerintah yang dijalankan yakni, bongkar ratoon, pengendalian impor melalui kebijakan Lartas (larangan dan pembatasan), serta revitalisasi industri gula nasional," kata Mentan usai mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu.

Langkah tersebut diambil untuk membenahi persoalan sektor gula dari hulu hingga hilir, termasuk rendahnya produktivitas tebu dan tata niaga yang dinilai tidak sehat.

Di sektor hulu, pemerintah menyoroti kondisi tanaman tebu yang sudah tidak produktif. Hasil evaluasi pada 2025 menunjukkan sekitar 70 hingga 80 persen lahan tebu nasional sudah tidak layak karena usia tanaman yang terlalu tua.

BACA JUGA:Percepat Swasembada Gula, Kementan Siapkan 5,9 Miliar Mata Benih Tebu

"Kami mengecek tebu-tebu kita seluruh Indonesia, 70-80 persen itu tidak layak. Sehingga kita lakukan bongkar ratoon. Dan Bapak Presiden meminta kami untuk membantu petani-petani tebu Indonesia. Kami langsung anggarkan Rp1,7 triliun di 2025, kita lanjutkan di 2026,” ujar Mentan.

Dari total sekitar 500 ribu hektare lahan tebu, lebih dari 300 ribu hektare merupakan tanaman lama yang menghambat peningkatan produksi.

“Rencana kami bongkar ratoon karena 300 ribu lebih dari 500 ribu hektare itu tanaman lama. Tidak mungkin produksinya bisa naik. Sehingga petani tidak bisa untung,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan, pemerintah menargetkan peremajaan lahan tebu melalui program bongkar ratoon seluas 100 ribu hektare per tahun selama tiga tahun.

Di sisi hilir, pemerintah menemukan anomali tata niaga gula. Di tengah kebutuhan impor, gula lokal justru tidak terserap pasar, bahkan harga molase mengalami penurunan signifikan.

BACA JUGA:Mentan Percepat Swasembada Pangan, Deregulasi dan Modernisasi Jadi Kunci

“Yang kedua, yang juga seperti anomali. Satu sisi kita impor gula, tetapi anehnya gula kita tidak bisa laku. Molase kita tidak bisa laku. Dulu harganya molase itu Rp1.900 per liter, Maret 2026 turun sampai Rp1.000. Ada apa? Kemudian gula tidak bisa laku,” tegas Amran.

Kondisi tersebut berdampak pada kinerja BUMN sektor gula. PT Perkebunan Nusantara dilaporkan mengalami kerugian sekitar Rp600 miliar akibat lemahnya serapan pasar.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan