Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Rupiah Sentuh Rp17.105, Airlangga: Mata Uang Lain Juga Melemah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026)-Fathur Rochman-ANTARA

BELITONGEKSPRES.COM - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan ditutup melemah ke level Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa sore. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan ini tidak hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga dialami berbagai mata uang dunia.

Saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Airlangga menegaskan bahwa pergerakan tersebut merupakan bagian dari dinamika global.

"Itu kan bukan hanya rupiah, berbagai currency (mata uang) lain juga demikian," kata Airlangga singkat.

Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 70 poin atau sekitar 0,41 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.980 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.

BACA JUGA:Ekonom Soroti Tiga Faktor Kunci Pembalikan Tren Pelemahan Rupiah

BACA JUGA:Purbaya Nilai BI Bisa Dorong Penguatan Rupiah ke Level Rp15.000

“Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan, Iran menolak proposal Amerika Serikat terkait gencatan senjata selama 45 hari dan pembukaan Selat Hormuz secara bertahap. Iran justru menuntut penghentian konflik secara permanen, jaminan keamanan, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerugian yang terjadi.

“Trump menegaskan kembali bahwa tenggat waktu hari Selasa itu tegas dan memperingatkan bahwa kegagalan untuk mematuhi dapat memicu serangan AS terhadap infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Ia juga mengatakan Iran dapat disingkirkan dengan cepat, menggarisbawahi meningkatnya risiko eskalasi yang lebih luas,” kata Ibrahim.

Situasi tersebut dinilai berdampak pada terganggunya pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak. 

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi dan berpotensi mempersulit arah kebijakan moneter global.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat pada Jumat, yang akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp17.092 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS. (antara)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan