Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Kementan Percepat Hilirisasi Pertanian Lewat Biofuel dan Bioetanol untuk Kemandirian Energi

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (tengah), didampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono (kiri), Wakil Ketua Badan Pengaturan BUMN Tedi Bharata (kanan) memberi keterangan kepada media usai rapat hilirisasi bersama BUMN Pangan di Kantor Pusat Kementan,-Harianto-ANTARA

BELITONGEKSPRES.COM - Kementerian Pertanian mempercepat hilirisasi sektor pertanian melalui pengembangan biofuel dan bioetanol guna mendorong kemandirian energi nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menghadapi tekanan geopolitik global.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan percepatan hilirisasi merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

"Ini sebagai bentuk tindak lanjut sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi dinamika geopolitik global," kata Amran usai rapat hilirisasi bersama BUMN Pangan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Senin.

Amran menegaskan, setelah sektor pangan dinilai stabil, pemerintah kini mengalihkan fokus pada penguatan energi berbasis pertanian, terutama melalui biofuel dan bioetanol.

BACA JUGA:Bahlil Sebut Penerapan Biofuel B50 di 2026 Berpotensi Bebaskan Indonesia dari Impor Solar

“Pada saat kita rapat minggu lalu sebelum Presiden bertolak ke Jepang dan Korea Selatan, beliau sampaikan kita melakukan akselerasi hilirisasi. Yang pertama, untuk sektor pertanian hilirisasi biofuel di saat kondisi geopolitik yang memanas, kita butuh langkah cepat,” ujarnya.

Ia juga menyinggung rencana pemerintah mengganti impor solar dengan biofuel berbasis sawit B50 sebesar 5,3 juta ton sebagai bagian dari upaya kemandirian energi.

“Pangan selesai. Jadi, alhamdulillah bulan suci Ramadhan bukan harga beras yang menjadi penyumbang inflasi. Yang kedua adalah janji Bapak Presiden bahwa kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton,” ucapnya.

Selain biofuel, pengembangan bioetanol melalui program E20 juga menjadi prioritas. Bahan bakunya berasal dari komoditas pertanian seperti jagung, ubi kayu, dan tebu yang melimpah di Indonesia.

"Yang ketiga, mimpi kita E20. Apa itu E20? Etanol dan campuran bensin. Dari mana? Jagung, ubi kayu, dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia,” jelas Amran.

BACA JUGA:Krisis Energi Mengintai, INDEF Usul Kurangi Impor BBM dan Kembangkan Bioetanol

Ia menambahkan, potensi bahan baku bioetanol juga berasal dari produk samping industri gula seperti molase yang selama ini masih banyak diekspor.

"Bahan baku kita yang kita ekspor itu ada 1 juta ton. Itu molase, tetes. Ini bisa dijadikan etanol,” tuturnya.

Amran menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan kemandirian pangan dan energi secara bersamaan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan