Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus US$100 per Barel Pekan Depan, Gangguan Pasokan Timur Tengah Jadi Pemicu
MT Spyros yang membawa 1 juta barel minyak mentah (crude) dari Aljazair, wujud Bring Barrels Home yang dilakukan Pertamina untuk memperkuat ketahanan energi nasional-Dok. Pertamina-Jawapos
BELITONGEKSPRES.COM - Harga minyak dunia diperkirakan melonjak hingga menembus US$100 per barel pada pekan depan akibat terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Bahkan, harga minyak berpotensi mencapai US$150 per barel pada akhir bulan jika hambatan distribusi belum dapat diatasi.
Peringatan tersebut disampaikan bank investasi global Goldman Sachs setelah terjadi penurunan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang menghubungkan negara produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar global.
Dikutip dari Guardian, Minggu 8 Maret 2026, Goldman Sachs menyebut aliran minyak yang melewati Selat Hormuz mengalami gangguan serius.
Awalnya, bank tersebut memperkirakan penurunan arus minyak mentah sekitar 15 persen dari kondisi normal.
Namun situasi memburuk setelah Iran melakukan blokade terhadap kapal tanker, sehingga hanya sekitar 10 persen pengiriman minyak yang biasanya melintasi jalur tersebut yang masih dapat lewat.
BACA JUGA:BBM Bersubsidi Berpotensi Naik Jika Lonjakan Harga Minyak Dunia Membebani APBN
Goldman Sachs menilai dampak gangguan pasokan kali ini bahkan lebih besar dibandingkan gangguan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang sempat mendorong harga minyak hingga sekitar US$110 per barel.
“Berdasarkan data terbaru, perkembangan situasi, dan besarnya guncangan pasar, kami memperkirakan harga minyak kemungkinan akan melampaui US$100 per barel minggu depan apabila belum ada tanda-tanda solusi,” tulis Goldman Sachs dalam laporannya.
Lembaga tersebut juga mengingatkan harga minyak, khususnya produk olahan, berpotensi melampaui rekor yang pernah terjadi pada 2008 dan 2022 apabila arus minyak melalui Selat Hormuz masih terhambat sepanjang Maret 2026.
Kenaikan harga minyak sebenarnya sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pada akhir pekan lalu harga minyak sempat menembus US$90 per barel, mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi Covid-19.
Dalam perdagangan terbaru, minyak mentah Amerika Serikat bahkan diperdagangkan di atas US$94 per barel. Kondisi ini menunjukkan harga minyak masih berpotensi naik ketika pasar keuangan kembali dibuka.
BACA JUGA:Pemerintah Mulai Alihkan Sebagian Impor Minyak Mentah dari Timur Tengah ke AS
Analis energi dari Center for Strategic and International Studies Clayton Seigle menilai pasar minyak global kini menghadapi kekurangan pasokan yang sangat besar.
“Defisit sekitar 20 juta barel per hari menghantam keseimbangan pasar minyak global tanpa ada tanda-tanda pemulihan,” katanya.