Impor LPG 2026 Naik Jadi 7,8 Juta Ton, 70 Persen Dipasok dari AS
Sebuah truk pengangkut elpiji melintasi terminal penyimpanan elpiji milik PT Pertamina usai bongkar muat di Kawasan Tanjung Priok Jakarta-Wahyu Putro A-Antara
BELITONGEKSPRES.COM - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kebutuhan impor liquefied petroleum gas atau LPG Indonesia pada 2026 meningkat menjadi 7,8 juta ton dari sebelumnya 7,3 juta ton. Dari total tersebut, sekitar 70 persen dipasok dari Amerika Serikat, sementara 30 persen berasal dari kawasan Timur Tengah melalui Saudi Aramco.
"Tahun ini dinaikkan menjadi 7,8 juta ton, 70%-nya sekarang kita ambil dari Amerika, 30%-nya dari middle east, dari Saudi Aramco," kata Bahlil saat memberikan keterangan pers di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa 3 Maret 2026.
Ia menjelaskan dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi pertimbangan pemerintah dalam menentukan sumber impor. Ketegangan kawasan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi jalur distribusi dan stabilitas pasokan energi.
"Kita tahu bahwa dari informasi dinamika ketegangan di Timur Tengah juga terkait dengan Saudi Aramco, itu juga kena kemarin dinamika di sana," ujar Bahlil.
BACA JUGA:Imbas Kesepakatan Dagang, Pertamina Naikkan Impor LPG AS ke 70 Persen
BACA JUGA:Menteri Bahlil Laporkan ke Prabowo, Stok BBM dan LPG Aman Hingga Lebaran 2026
Untuk mengurangi risiko gangguan pasokan, pemerintah menyiapkan langkah diversifikasi sumber impor. Salah satu strategi yang ditempuh adalah meningkatkan porsi pembelian dari negara yang tidak terkait langsung dengan jalur Selat Hormuz.
"Maka alternatifnya adalah kita switch lagi, kita tidak mau ambil risiko, sebagiannya kita lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz," pungkasnya.
Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah menegaskan kebijakan diversifikasi impor LPG bertujuan memastikan pasokan tetap aman dan stabil bagi kebutuhan dalam negeri sepanjang tahun ini. (beritasatu)