Menteri ESDM: Indonesia Alihkan Sebagian Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (kiri) dan Wakil Menteri ESDM Yuliot (kanan) dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM, yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selas-Putu Indah Savitri-ANTARA
BELITONGEKSPRES.COM - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia akan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kebijakan ini diambil untuk menjaga kepastian pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kami ambil dari Timur Tengah, sebagian kami alihkan untuk ambil di Amerika Serikat,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, langkah tersebut bertujuan memastikan ketersediaan minyak mentah tetap terjaga, terutama karena sebagian jalur impor Indonesia melewati Selat Hormuz yang berada di kawasan terdampak konflik.
Menurut Bahlil, sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini melewati Selat Hormuz. Sementara sisanya berasal dari berbagai negara lain seperti Amerika Serikat, Brasil, serta negara di kawasan Afrika termasuk Angola.
“Jadi, secara keseluruhan, impor kita untuk crude 20–25 persen lewat Selat Hormuz. Selebihnya tidak dari sana,” katanya.
BACA JUGA:Menko Airlangga: Harga BBM Berpotensi Naik Imbas Konflik AS-Iran
BACA JUGA:Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak Imbas Konflik Iran-Israel
Bahlil menegaskan pemerintah telah berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait rencana pengalihan impor tersebut. Diversifikasi sumber pasokan dinilai penting untuk meminimalkan risiko gangguan distribusi akibat gejolak geopolitik.
Untuk impor bahan bakar minyak, ia memastikan Indonesia tidak bergantung pada kawasan Timur Tengah. Pasokan BBM selama ini berasal dari negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia dengan skema kontrak jangka panjang.
“Untuk BBM-nya itu kami ambil dari Singapura sama Malaysia, dan kontrak kita sudah kontrak jangka panjang. Jadi, relatif oke,” ujar Bahlil.
Eskalasi konflik bermula pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil, lalu dibalas Iran dengan peluncuran rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada 1 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut, dan televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kabar tersebut.
Media Iran juga melaporkan Selat Hormuz secara efektif ditutup menyusul serangan tersebut, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.