Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

BPS: Tarif Listrik Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Februari 2026

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan Rilis Resmi Berita Statistik di Jakarta, Senin (2/3/2026)-BPS-ANTARA

BELITONGEKSPRES.COM - Tarif listrik menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Februari 2026. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tarif listrik mencapai 86,96 persen secara year on year dengan andil 2,17 persen terhadap inflasi nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono, menjelaskan komoditas tarif listrik masuk dalam kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. 

Kelompok ini mencatat inflasi tahunan sebesar 16,19 persen, jauh di atas inflasi umum yang tercatat 4,76 persen pada Februari 2026.

"Penyumbang utama inflasi Februari 2026 secara year-on-year adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi 2,26 persen," kata Ateng di Jakarta, Senin.

Lonjakan inflasi tarif listrik dipicu penyesuaian harga setelah berakhirnya program diskon 50 persen yang diberikan pemerintah pada Januari hingga Februari 2025. Penormalan tarif tersebut berdampak signifikan terhadap perhitungan inflasi tahunan.

BACA JUGA:BPS Catat Inflasi Tahunan Februari 2026 Sebesar 4,76 Persen, IHK Naik ke 110,50

BACA JUGA:Inflasi Januari Tinggi, BI Optimistis 2026–2027 Akan Menurun

Selain tarif listrik, sejumlah komoditas dalam kelompok perumahan turut menyumbang inflasi, antara lain biaya sewa rumah sebesar 0,03 persen, biaya kontrak rumah 0,02 persen, bahan bakar rumah tangga 0,01 persen, tarif tukang bukan mandor 0,01 persen, serta tarif air minum PAM 0,01 persen.

Di luar kelompok tersebut, BPS mencatat beberapa komoditas lain yang berkontribusi terhadap inflasi tahunan Februari 2026. Emas perhiasan menyumbang 1,06 persen, ikan segar 0,23 persen, daging ayam ras 0,22 persen, beras 0,15 persen, bawang merah 0,09 persen, dan telur ayam ras 0,06 persen.

Sementara itu, kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi tahunan sebesar 0,09 persen.

Berdasarkan komponen, inflasi Februari 2026 terutama didorong oleh komponen harga yang diatur pemerintah yang mengalami inflasi 12,66 persen dengan andil 2,26 persen. 

Komoditas dominan pada komponen ini meliputi tarif listrik, sigaret kretek mesin, dan sigaret kretek tangan.

Komponen bergejolak juga mencatat inflasi 4,64 persen dengan andil 0,78 persen, dipicu antara lain oleh daging ayam ras, beras, bawang merah, dan telur ayam ras.

Adapun komponen inti mengalami inflasi tahunan 2,63 persen dengan andil 1,72 persen. Komoditas yang dominan memengaruhi komponen inti antara lain emas perhiasan, biaya akademis atau perguruan tinggi, mobil, sewa rumah, serta nasi dengan lauk. (ant)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan