Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak Imbas Konflik Iran-Israel
Ilustrasi Selat Hormuz.-ist-Beritasatu.com
BELITONGEKSPRES.COM - Memanasnya kembali konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat dinilai berpotensi menekan perekonomian negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Risiko utama yang mengemuka adalah lonjakan harga minyak dunia serta tekanan inflasi, menyusul langkah Iran menutup akses Selat Hormuz.
Pengamat Timur Tengah dari Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, menyebut Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global. Jika penutupan berlangsung lama, dampaknya akan signifikan terhadap negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
"Apabila Hormuz lama ditutupnya, ini akan memberikan dampak ekonomi terutama ke Asia dan juga ke Asia Tenggara, termasuk kita (Indonesia)," ujar Tia kepada Beritasatu.com, Minggu 1 Maret 2026.
Menurut dia, sekitar 80 persen pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke Asia melintasi Selat Hormuz. Gangguan pada jalur tersebut berisiko mengurangi pasokan minyak dunia secara drastis dan mendorong kenaikan harga energi.
BACA JUGA:Wilayah Udara Timur Tengah Ditutup, Maskapai Global Hentikan Penerbangan
BACA JUGA:Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Pastikan Penyelenggaraan Haji Tetap Berjalan
"Tanker-tanker dari Timur Tengah menuju Asia, termasuk ke kita, itu melewati Hormuz. Jadi ini dikhawatirkan nanti akan terjadi inflasi, terutama efeknya terhadap Indonesia," kata Tia.
Selain aspek ekonomi, konflik ini juga sarat kepentingan geopolitik. Tia menilai China dan Rusia berpotensi mendukung Iran untuk menjaga kepentingan bisnisnya di kawasan, meski tidak dalam bentuk keterlibatan militer langsung.
"Iran merupakan penyeimbang kondisi politik di Timur Tengah. Kalau misalnya rezim Iran tumbang dan digantikan oleh pihak AS, maka kemungkinan bisnis Cina dan Rusia di Timur Tengah akan terganggu, karena hampir semua negara-negara produsen minyak di Timur Tengah sudah bergabung dengan AS," tambahnya.
Tia memperkirakan ketegangan tidak akan mereda dalam waktu dekat. Iran saat ini berada dalam masa transisi politik setelah meninggalnya pimpinan tertinggi, sehingga dinamika internal masih berlangsung.
Sementara itu, Amerika Serikat diprediksi terus memberikan tekanan hingga terjadi perubahan kepemimpinan di Iran. Tia berharap proses politik tersebut berlangsung tanpa campur tangan eksternal.
"Biarkan rakyat Iran menentukan masa depannya sendiri tanpa ikut campur dari pihak Amerika Serikat," pungkasnya. (beritasatu)