Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Pertamina dan SGN Bangun Pabrik Bioetanol di Banyuwangi, Target Produksi 30 Ribu KL per Tahun

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan pabrik bioetanol di Banyuwangi, Jawa Timur-Pemkab Banyuwangi-ANTARA

BELITONGEKSPRES.COM - PT Pertamina bersama PT Sinergi Gula Nusantara atau SGN membangun pabrik bioetanol berkapasitas produksi 30 ribu kiloliter per tahun di kawasan Pabrik Gula Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Proyek ini ditujukan untuk mendukung pengembangan energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menyampaikan pabrik bioetanol tersebut akan memanfaatkan bahan baku berbasis tebu sebagai bagian dari transformasi produk sampingan industri gula menjadi energi alternatif.

"Ini merupakan transformasi produk sampingan gula menjadi energi bersih, dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, yang akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat," ujar Agung dalam keterangannya di Banyuwangi, Sabtu.

Dengan kapasitas produksi mencapai 30 ribu kiloliter per tahun, pabrik ini diproyeksikan mampu mengurangi impor bahan bakar minyak hingga sebesar USD 13,9 juta atau sekitar Rp233,52 miliar. Selain itu, proyek ini juga diperkirakan dapat menurunkan emisi tahunan hingga 66.000 ton CO2 ekuivalen.

"Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon, melalui substitusi impor BBM senilai USD 13,9 juta akan dicapai ketahanan energi, dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 juta ton CO2 ekuivalen akan dicapai keberlanjutan lingkungan," kata Agung.

BACA JUGA:Menkeu Percepat Revisi Aturan Pembebasan Cukai Bioetanol, Respons Kendala Izin Pertamina

BACA JUGA:Pemerintah Wajibkan Campuran Bioetanol pada Bensin Paling Lambat 2028

Hasil produksi bioetanol nantinya akan dikirim ke Terminal BBM Pertamina sebelum didistribusikan ke pasar melalui SPBU Pertamina sebagai bagian dari bahan bakar campuran. Saat ini, Pertamina telah menyalurkan BBM Pertamax Green 95 yang mengandung etanol sebesar lima persen melalui 177 SPBU di Pulau Jawa.

Agung menambahkan, keberadaan pabrik bioetanol di Banyuwangi akan memperluas implementasi penggunaan bahan bakar berbasis etanol sekaligus meningkatkan kadar campuran etanol, sehingga sejalan dengan praktik penggunaan bahan bakar ramah lingkungan di berbagai negara.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara Mahmudi memastikan ketersediaan bahan baku untuk produksi bioetanol mencukupi. Ia menyebut kebutuhan bahan baku sekitar 120 ribu ton per tahun dapat dipenuhi dari produksi molase SGN yang mencapai hampir 700 ribu ton, serta didukung lima pabrik gula di wilayah sekitar.

"Dari sisi feed-stock aman, kurang lebih untuk 100 KLP kan butuh sekitar 120 ribu ton dalam setahunnya, kebetulan produksi molase dari PT SGN secara total hampir 700 ribu ton, saya kira cukup, nanti juga didukung dari 5 pabrik gula yang ada di sekitar," ujarnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan pabrik bioetanol yang dibangun di atas lahan seluas 10 hektare tersebut merupakan bagian dari fase pertama program hilirisasi yang dijalankan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia.

Menurutnya, pengembangan bioetanol sebagai energi bersih diharapkan dapat memperkuat pasokan energi ramah lingkungan nasional sekaligus meningkatkan penyerapan hasil panen tebu petani di Banyuwangi dan daerah sekitarnya.

"Tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar juga akan kian terserap maksimal, karena selain untuk kebutuhan produksi gula, juga untuk bahan baku bioetanol," kata Ipuk.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan