Ekonom Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,07 Persen pada 2025
(Ki-ka) Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi, dan Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memaparkan laporan PIER Economic Outlook “Reviving Dom-Permata Bank-ANTARA
BELITONGEKSPRES.COM - Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 5,07 persen sepanjang 2025. Proyeksi ini disampaikan Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, yang menilai pertumbuhan tahun depan sedikit lebih baik dibandingkan capaian 2024 yang berada di level 5,03 persen.
Faisal menjelaskan, kinerja ekonomi diproyeksikan menguat terutama pada kuartal IV 2025. Pertumbuhan produk domestik bruto pada periode tersebut diperkirakan naik dari 5,04 persen pada kuartal III menjadi 5,25 persen secara tahunan.
“Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat dari 5,04 persen yoy pada Q3 2025 menjadi 5,25 persen yoy pada Q4 2025, sehingga mendorong pertumbuhan sepanjang tahun 2025 ke level 5,07 persen,” ujar Faisal saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, penguatan pada paruh akhir tahun terutama ditopang oleh permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta pembentukan modal tetap bruto diperkirakan menjadi motor utama pertumbuhan.
BACA JUGA:Menkeu Purbaya Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2025 Sedikit di Bawah Target APBN
BACA JUGA:Prabowo Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Mengejutkan Dunia
Faisal menilai konsumsi rumah tangga pada kuartal IV berpotensi kembali ke kisaran 5 persen. Sejumlah indikator seperti Indeks Kepercayaan Konsumen, penjualan ritel, penjualan kendaraan, hingga impor barang konsumsi menunjukkan tren perbaikan.
Kondisi ini sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari stimulus fiskal, penyaluran bantuan sosial, hingga upaya memperkuat pasar tenaga kerja.
“Dalam konteks ini, pertumbuhan belanja pemerintah pada Q4 2025 juga diperkirakan meningkat, terutama pada belanja barang dan bantuan sosial. Konsumsi rumah tangga juga diperkirakan memperoleh dukungan tambahan dari peningkatan permintaan musiman terkait libur akhir tahun,” kata Faisal.
Selain konsumsi, investasi juga diproyeksikan menguat. Pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto didukung oleh perbaikan kinerja sektor manufaktur, peningkatan kredit modal kerja, serta naiknya impor barang modal. Pemulihan ini terlihat dari meningkatnya konsumsi semen dan aktivitas pembangunan.
Dari sisi eksternal, Faisal menilai kinerja ekspor berpotensi melambat akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Sebaliknya, impor diperkirakan meningkat, terutama untuk kebutuhan barang modal yang sejalan dengan penguatan investasi domestik.
BACA JUGA:Wamen Ekraf Sebut Industri Gim Berpotensi Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Indonesia
BACA JUGA:Danantara Siap Dorong Pertumbuhan Ekonomi Maksimal pada 2026
Memasuki 2026, risiko terhadap prospek ekonomi dinilai masih relatif serupa. Ketidakpastian global, perang dagang, serta dinamika geopolitik masih menjadi tantangan utama. Namun, pelemahan pertumbuhan global juga dinilai dapat menahan tekanan inflasi.