Pemerintah Siapkan Rp 101 Triliun untuk Jaga Daya Saing Industri Tekstil Nasional
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto-Nurul Fitriana-JawaPos.com
BELITONGEKSPRES.COM - Pemerintah menyiapkan dana sekitar USD 6 miliar atau setara Rp 101 triliun (kurs 1 USD = Rp 16.870) untuk menjaga daya saing industri tekstil nasional. Langkah ini bertujuan mempertahankan sektor padat karya agar tetap tumbuh di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal ini usai menerima arahan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
“Pemerintah menyiapkan dana sekitar USD 6 miliar untuk menjaga teknologi tetap bersaing dan investasi berjalan, terutama di sektor tekstil,” kata Airlangga di Menara Kadin, Jakarta, Selasa, 13 Januari 2026.
Industri tekstil dianggap strategis karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Saat ini, sektor ini mempekerjakan sekitar 5 juta orang dengan potensi meningkat hingga 7 juta tenaga kerja.
BACA JUGA:AGTI Paparkan Peta Jalan Penguatan Industri Tekstil Nasional ke Purbaya
BACA JUGA:Pemerintah Perketat Impor Tekstil dan Pakaian Lewat Permendag 17/2025
Airlangga optimistis industri tekstil tidak akan kehilangan pasar karena kebutuhan sandang bersifat fundamental. “Dunia dihuni 8 miliar orang dan semuanya membutuhkan pakaian. Untuk sandang, pasar akan tetap kuat,” tegasnya.
Selain tekstil, sektor industri alas kaki juga memiliki prospek yang kuat. Airlangga menekankan kebutuhan sepatu bersifat universal, sehingga industri ini juga aman untuk dikembangkan. “Delapan miliar orang di dunia memakai sepatu. Jadi industri sepatu juga aman,” tambahnya.
Pemerintah tidak hanya fokus pada sektor padat karya, tetapi juga mendorong pengembangan industri masa depan berbasis digital. Menurut Airlangga, Indonesia memiliki pasar ekonomi digital yang besar.
Dengan penerapan kerangka kerja digital economic framework, nilai ekonomi digital kawasan ASEAN diproyeksikan naik dari sekitar Rp 1 triliun menjadi Rp 2 triliun, dengan kontribusi Indonesia sekitar 40 persen.
“Pasar digital Indonesia diperkirakan mencapai USD 125 miliar pada 2025. Dengan digital economic framework, nilai ekonomi digital naik dari Rp 1 triliun menjadi Rp 2 triliun,” jelas Airlangga. (jpc)