Swasembada Beras RI Tekan Harga di Pasar Global Hingga 44 Persen
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berbicara dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden RI Prabowo Subianto yang dihadiri 5000 petani/penyuluh secara luring dan dua juta petani secara daring di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2025)-Harianto-ANTARA
BELITONGEKSPRES.COM - Indonesia mencatat capaian swasembada beras yang berdampak langsung pada penurunan harga beras di pasar global. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut harga beras dunia turun hingga 44 persen seiring keputusan Indonesia menghentikan impor.
Amran menyampaikan, harga beras internasional turun dari sebelumnya sekitar 650 dolar Amerika Serikat per metrik ton menjadi 340 dolar AS per metrik ton. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat, Rabu.
Menurut Amran, absennya Indonesia sebagai negara pengimpor besar membuat pasokan beras di pasar internasional menjadi berlebih. Negara-negara pengekspor seperti Vietnam, Thailand, India, dan Pakistan kini menghadapi surplus pasokan karena Indonesia tidak lagi menyerap beras dari luar negeri.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi bukti kontribusi petani Indonesia terhadap stabilitas pasar pangan global. Keputusan strategis pemerintah dinilai membawa dampak tidak langsung bagi dunia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di dalam negeri.
BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan Harus Terwujud Setiap Tahun
Selama bertahun-tahun, Indonesia masih mengandalkan impor untuk menutup kebutuhan beras nasional akibat produksi padi yang belum mencukupi. Namun, kebijakan pro petani yang dijalankan pemerintah mendorong lonjakan produksi. Pada awal 2026, stok beras nasional tercatat mencapai 3,25 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah karena sebelumnya stok awal tahun tidak pernah melampaui 3 juta ton.
Amran menegaskan, sejak 2025 Indonesia memutuskan menghentikan impor beras sebagai bagian dari kebijakan besar Presiden Prabowo Subianto agar bangsa ini mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Produksi beras nasional dinilai telah memadai untuk mencukupi konsumsi masyarakat.
Saat ini, Cadangan Beras Pemerintah sepenuhnya berasal dari hasil panen petani dalam negeri. Kondisi tersebut disebut sebagai hasil kerja bersama lintas sektor, mulai dari Kementerian Pertanian, TNI dan Polri, Kejaksaan, Kementerian Perdagangan, BUMN, hingga Komisi IV DPR.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut berdampak positif terhadap harga gabah di tingkat petani. Kenaikan harga gabah dinilai berkontribusi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani di berbagai daerah.
BACA JUGA:Mentan Tegaskan Modernisasi Pertanian Jadi Kunci Swasembada Pangan
Pergerakan harga beras dunia juga tercermin dalam data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO. Melalui indeks The FAO All Rice Price Index atau FARPI, FAO mencatat rata-rata harga beras dari negara-negara pengekspor utama.
Berdasarkan data FARPI, level indeks terendah dalam lima tahun terakhir terjadi pada November 2025 dengan angka 96,9. Sebelumnya, rekor terendah tercatat pada Agustus 2021 dengan indeks 97,9. Menariknya, pada 2021 dan 2025 Indonesia sama-sama tidak melakukan impor beras untuk penambahan Cadangan Beras Pemerintah.
Kesamaan tersebut menunjukkan besarnya pengaruh Indonesia terhadap dinamika pasar beras internasional. Ketiadaan impor dari Indonesia pada 2025 dinilai memberi tekanan signifikan terhadap harga global.
Dalam catatan sejarah, stok akhir Cadangan Beras Pemerintah tanpa dukungan impor juga belum pernah menembus angka 3 juta ton selama 18 tahun terakhir.