Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Bloomberg Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen pada 2026, Inflasi 2,75 Persen

Ilustrasi - Proyeksi ekonomi Indonesia 2026 versi Bloomberg Intelligence menunjukkan pertumbuhan PDB tetap di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, namun pasar obligasi dan nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan-ist-

BELITONGEKSPRES.COM - Bloomberg Intelligence memprediksi perekonomian Indonesia tetap bergerak stabil pada 2026. Produk domestik bruto diproyeksikan tumbuh 5,0 persen secara tahunan, sementara inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,75 persen year on year.

Meski demikian, laporan tersebut menyoroti potensi tekanan lanjutan di pasar obligasi seiring tingginya kebutuhan penerbitan surat utang serta meningkatnya risiko fiskal. Proyeksi ini tertuang dalam laporan berjudul Indonesia in Focus: Review and Outlook for 2026.

Bloomberg Intelligence menilai, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan bertahan di sekitar 5,0 persen sepanjang periode 2025 hingga 2027. Risiko resesi dalam 12 bulan ke depan dinilai sangat rendah, dengan probabilitas hanya sekitar 3 persen.

Di pasar saham, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan tercatat impresif. IHSG menguat 22 persen sepanjang 2025, menjadi capaian tahunan terbaik sejak 2014. Penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya peran investor ritel domestik yang berburu imbal hasil lebih tinggi.

BACA JUGA:BPS: Tiongkok Tetap Tujuan Ekspor Terbesar Indonesia 2025

BACA JUGA:Pemerintah Tetapkan PPh 21 DTP untuk 5 Sektor Usaha 2026, Ini Aturannya

Sebaliknya, pasar obligasi pemerintah menghadapi tekanan cukup besar. Arus masuk dana asing ke Surat Berharga Negara hampir sepenuhnya terpangkas, dengan net inflow merosot menjadi sekitar 25 juta dolar AS. Angka ini turun tajam dibandingkan puncaknya yang mencapai 4,6 miliar dolar AS pada Agustus 2025.

Bloomberg menilai kekhawatiran terhadap prospek fiskal menjadi faktor utama yang mendorong investor global menarik dana dari pasar obligasi Indonesia. Tekanan tersebut turut berdampak pada nilai tukar rupiah yang melemah ke posisi terendah dalam delapan bulan di kisaran Rp16.790 per dolar AS, seiring defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen terhadap PDB.

Kendati demikian, Bank Indonesia disebut tetap menargetkan penguatan rupiah pada 2026, dengan kisaran nilai tukar diproyeksikan berada di level Rp16.500 hingga Rp16.400 per dolar AS. Otoritas moneter juga diperkirakan akan membuka ruang pelonggaran kebijakan secara hati-hati, dengan menjaga stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama.

Di sisi investasi, Bloomberg mencatat realisasi investasi Indonesia berhasil mencapai target Rp1.905 triliun pada 2025. Capaian ini menunjukkan minat investor terhadap Indonesia masih terjaga, meskipun kondisi pasar global diliputi volatilitas.

Sektor ekonomi kreatif turut menjadi sorotan, dengan aliran investasi asing mencapai Rp132 triliun. Pertumbuhan produk domestik bruto sektor ini tercatat melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga dinilai menjadi salah satu penopang utama prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah. (ant)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan