Rupiah Berpeluang Menguat, Data Manufaktur AS Alami Kontraksi
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta--(ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
JAKARTA, BELITONGEKSPRES.COM – Nilai tukar rupiah diprediksi berpeluang menguat terbatas terhadap dolar Amerika Serikat seiring melemahnya data manufaktur Negeri Paman Sam.
Tekanan dolar AS mereda setelah indikator aktivitas industri menunjukkan kontraksi yang lebih dalam dari perkiraan pasar.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan data manufaktur AS memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak positif meski masih dalam fase konsolidasi.
Data Indeks Manufaktur Empire State AS tercatat minus 3,9, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan level 10.
BACA JUGA:Para Raja Kripto Serbu Negara Arab, Ada Apa di Abu Dhabi?
“Rupiah diperkirakan masih akan bergerak konsolidatif dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang sedikit tertekan setelah rilis data manufaktur Empire State yang lebih lemah,” ujar Lukman di Jakarta, Selasa (16/12/2025) seperti dilansir Antara.
Meski demikian, pergerakan rupiah dinilai belum akan agresif. Investor global masih bersikap wait and see sambil menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, khususnya Non-Farm Payroll atau NFP, yang dijadwalkan rilis pada Selasa malam waktu setempat.
Data NFP diperkirakan tetap lemah. Penambahan tenaga kerja diproyeksikan hanya sekitar 25 ribu hingga 30 ribu orang, jauh di bawah angka normal yang biasanya berada di atas 100 ribu pekerjaan. Kondisi ini berpotensi menahan penguatan dolar AS dalam jangka pendek.
Dari dalam negeri, sentimen rupiah masih dibayangi kehati-hatian pelaku pasar menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Kekhawatiran tersebut dinilai masih memberi tekanan terbatas terhadap pergerakan rupiah.
BACA JUGA:Pemerintah Terbitkan Aturan Baru Minyakita, Perkuat Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat
Lukman memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya tarik imbal hasil aset domestik sekaligus meredam tekanan lanjutan terhadap rupiah.
“Jika suku bunga diturunkan, imbal hasil yang lebih rendah akan menjadi kurang menarik dan berpotensi menekan rupiah,” ujarnya.
Dengan mempertimbangkan faktor global dan domestik tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.600 hingga Rp16.700 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa pagi, rupiah tercatat melemah tipis. Mata uang Garuda turun 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.673 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.667 per dolar AS.***