Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Pilihan Baru

dr Edwin Ongkoraharjo (kiri) bersama Soedomo Mergonoto (tengah)--

Kelenjar prostatnya sendiri berfungsi ikut mendorong sperma itu keluar di saat terjadi ejakulasi.

Kian tambah umur biji kenari itu kian besar. Ada obat yang bisa menahan pembesaran itu. Harus diminum seumur hidup. Belum tentu berhasil.

Yang populer dilakukan selama ini –kalau kegiatan kencingnya sudah sangat mengganggu– pengerokan. Prostat yang membesar dikerok. Caranya: kateter dimasukkan ke lubang kemaluan, didorong menuju lokasi prostat. Di ujung kateter dipasangi alat pengerok. Berarti alat itu harus membelah dinding saluran kencing –untuk mengurangi besaran prostat di sekitar saluran kencing.

Setelah dilakukan pengerokan saluran kencing bisa membuka lebih besar. Kencing bisa lancar. Tapi ada tapinya: saat ejakulasi sperma tidak bisa keluar dari kemaluan. Sperma itu kembali masuk ke saluran kencing yang sudah diperbesar –lalu pada saatnya keluar bersama air kencing.

Tapi itu tidak bahaya. Juga tidak mengganggu ejakulasi. Laki-laki tetap bisa ereksi. Tetap bisa ejakulasi. Perasaan saja terganggu: kok tidak terlihat spermanya keluar. Perasaan Anda tentu terganggu –apalagi perasaan yang di bawah.

Rezum tidak seperti itu. Prinsipnya sama. Kateter dimasukkan ke lubang kemaluan, didorong menuju lokasi prostat. Di ujung keteter ada jarum. Jarum itulah yang menembus dinding saluran kencing –menuju kelenjar prostat.

Di bagian prostat yang dekat dengan saluran kencing jarum itu mengeluarkan uap. Uap air panas. Suhu uapnya mencapai 103 derajat Celsius.

Dengan suhu uap di atas 60 derajat sejumlah sel prostat di dekat jarum lama-lama bisa mati sendiri. Mati secara sehat. Dengan matinya sejumlah sel, prostat pun mengecil.

"Dari pengalaman saya, hasilnya baru bisa dirasakan setelah dua atau tiga bulan," ujar dr Edwin Ongkoraharjo, spesialis urologi (Unair) yang juga Dirut RS Adi Husada.

Dalam sebulan terakhir sudah 10 pasien ditangani di rumah sakit itu. Dua pasien tidak jadi dikerjakan karena ada indikasi masuk tahap kanker prostat.

Adi Husada adalah satu dari lima rumah sakit anggota Forkom: Husada Jakarta, Telogo Rejo Semarang, RS Dr Oen Solo, Adi Husada Surabaya, dan Panti Nirmala Malang.

Itulah rumah-rumah sakit milik perkumpulan Tionghoa. Di masa sebelum lahir Indonesia warga Tionghoa punya banyak perkumpulan. Mereka punya rumah sakit. Punya sekolah-sekolah Tionghoa. Punya rumah dansa. Rumah musik.

Masing-masing perkumpulan independen. Bentuk lembaganya, umumnya ''perkumpulan''. Bukan yayasan. Bukan perseroan.

Tahun lalu Telogo Rejo genap berumur 100 tahun. Tahun sebelumnya Husada Jakarta 100 tahun. Tahun depan Adi Husada 100 tahun. Perkumpulan yang menaungi Adi Husada memang didirikan tahun 1927 –bersamaan dengan tahun berdirinya Persebaya.

"Saya juga bonek Pak," ujar Edwin. "Sampai sekarang pun masih sering nonton di Gelora Bung Tomo," tambahnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan