Jangan Main-main Dengan Korupsi dan Kepercayaan Rakyat
Wamenaker Immanuel Ebenezer bersama tersangka lainnya saat dihadirkan sebagai tersangka usai terjaring OTT KPK pada konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (22/8/2025)--(ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/foc)
Bahkan, ketika pelaku korupsi, Immanuel Ebenezer, mengutarakan keinginan untuk mendapat amnesti, Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak akan membela pelaku korupsi, meskipun merupakan bawahannya. Kini, Immanuel Ebenezer sudah bukan bawahan dari presiden karena sudah dipecat dari jabatan Wakil Menteri Ketenagakerjaan.
Seperti Narkoba
Sesungguhnya, perilaku korupsi itu sangat mirip dengan narkoba. Korupsi juga membawa pelakunya pada keadaan kecanduan atau adiktif.
Mungkin di tahap awal, nilai korupsinya tidak seberapa, namun ketika si pelaku merasakan nyaman dan aman, hampir pasti akan tergerak untuk mengulangi. Ketika mengulang itu, hampir pasti juga, nilai uang yang dikorupsi lebih tinggi, bahkan puluhan, hingga ratusan kali lipat dari sebelumnya.
Karena itu, mendapat amanah berupa kekuasaan atau jabatan, mengharuskan seseorang untuk selalu mawas atau waspada. Kalau dalam spiritual Jawa dikenal dengan pedoman hidup "Eling lan waspodo", pejabat bisa menggunakan kearifan lokal Nusantara ini sebagai pegangan.
"Eling" artinya ingat. Penerapannya adalah, ingat bahwa kita selalu diawasi oleh hukum, dan yang lebih tinggi kita diawasi oleh Tuhan, apapun kepercayaan yang kita anut. Kita harus selalu waspodo atau waspada untuk ingat bahwa Tuhan selalu bersama dan mengawasi kita. Saat bersamaan, kita harus selalu waspada, jangan sampai tidak ingat.
Begitu seseorang dilantik dalam jabatan tertentu, godaan korupsi langsung dan selalu ada. Memilih sikap mawas atau "eling lan waspada" adalah jalan terbaik untuk selamat, baik selamat atas diri dan keluarga, maupun selamat atas keberlangsungan cita-cita besar bangsa ini, yakni mewujudkan masyarakat makmur dan sejahtera.
Mulai dari pagi si pejabat itu bekerja, sikap waspada dan mawas dalam jiwanya harus sudah hidup. Kalau di pagi hari selamat dari godaan korupsi, jangan bangga dan kemudian lengah. Boleh jadi di siang hari godaan dalam bentuk lain datang lagi.
Demikian juga dengan di sore dan malam hari. Bahkan, ketika sudah pulang dari kantor, godaan itu bisa juga menghampiri ke rumah, bahkan ke kamar pribadi. Pemantiknya bisa dari kebutuhan atau permintaan keluarga, baik istri, suami, anak, atau dari keluarga yang lain.
Masyarakat Nusantara, bukan hanya Jawa, memiliki nilai-nilai adiluhung untuk membawa diri kita selamat, yang diwariskan oleh para leluhur, sesuai wilayah dan budayanya. Nilai moral itu, kalau dirangkum secara sederhana adalah, "Jangan ambil sesuatu yang bukan hak kita". Saatnya kita kembali kepada nilai moral yang secara genetik sudah ada di dalam diri, lebih-lebih mereka yang kini tengah berada di kursi panas kekuasaan.
Selalu mawas setiap saat adalah panduan aplikatif yang memerlukan latihan terus menerus dari setiap diri agar selamat dari perilaku menyimpang.
Presiden Prabowo Subianto sendiri, telah menyampaikan keseriusan dan komitmennya dalam memberantas korupsi.
Karena itu, kasus yang menimpa Immanuel Ebenezer ini seharusnya menjadi pelajaran besar bagi semua pejabat untuk berhati-hati dalam menjalankan tugasnya di pemerintahan.
Bersamaan dengan kesungguhan pemerintah untuk memberantas korupsi, siapapun yang kini menduduki jabatan di pemerintahan, jangan main-main dengan korupsi. (*)