Sekolah Rakyat, Merajut Asa Pendidikan Anak-anak Terpinggirkan
Suasana saat MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember yang diresmikan Bupati Jember Muhammad Fawait pada 15 Agustus 2025--(ANTARA/Zumrotun Solichah)
Ia yakin anak laki-lakinya yang kembar itu bisa belajar dengan baik di sekolah rakyat dengan mendapat bimbingan dari guru-guru, pendamping kelas, dan pendamping asrama yang mengajarinya untuk hidup lebih mandiri.
Tidak hanya siswa normal, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dari keluarga miskin juga terdaftar masuk di Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember. Tercatat ada dua siswa yang sudah masuk, yakni anak yang low vision dan menderita kanker mata, sehingga kedua siswa itu mengalami gangguan penglihatan.
Salah satu anak disabilitas low vision, Muhammad Bintang Ramadhan mengaku senang bisa belajar di sekolah rakyat jenjang SMP secara gratis. Ia sempat putus sekolah selama setahun karena tidak ada biaya.
Keinginannya sangat kuat untuk tetap bisa belajar di bangku sekolah, meskipun dengan keterbatasan penglihatan, karena ingin menggapai cita-cita yang tinggi dan berharap bisa mengangkat derajat hidup orang tuanya kelak.
Ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah, tidak lagi mampu membiayai sekolahnya di madrasah, saat itu, sehingga terpaksa berhenti sekolah dan kini dirinya bersyukur ada sekolah rakyat, sehingga bisa melanjutkan sekolah di jenjang SMP.
Pendidikan Karakter
Kepala Dinas Sosial Jember Akhmad Helmi Luqman mengatakan jumlah siswa sekolah rakyat sebanyak 95 anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, yakni tingkat desil 1 dan 2, namun ada sebagian anak-anak yang masih belum bersedia bergabung di sekolah rakyat karena kuota sekolah rakyat tersebut sebanyak 100 anak.
Karena itu, petugas masih terus melakukan pendekatan persuasif kepada keluarga dan anak yang bersangkutan agar bersedia belajar di sekolah rakyat, namun apabila tetap tidak berkenan, maka akan mencari siswa lain, dengan catatan dari keluarga miskin.
Sekolah rakyat merupakan program pendidikan berasrama untuk anak dari keluarga miskin ekstrem yang dirancang inklusif dan ramah disabilitas, sehingga beberapa sekolah rakyat yang sudah beroperasi telah menerima siswa penyandang disabilitas, seperti di Jember.
Anak-anak disabilitas yang masuk sekolah rakyat tersebut akan diberikan fasilitas penunjang agar bisa berbaur dengan siswa yang lainnya dan para guru juga akan memperhatikan hal tersebut, sehingga bisa belajar dengan baik.
Selama sekolah dengan model asrama itu, anak-anak melakukan kegiatan belajar formal dengan pendidikan karakter, keterampilan hidup, dan pendampingan psikososial secara intensif.
Kegiatan belajar di Sekolah Rakyat diisi dengan kurikulum formal yang berlangsung pada pagi hingga siang hari, sedangkan sore hingga malam diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler dan pembinaan karakter yang terstruktur, seperti mengaji dan kegiatan positif lainnya.
Pendidikan di Sekolah Rakyat akan berfokus pada tiga hal utama, yaitu ilmu pengetahuan, pembentukan karakter kebangsaan, keagamaan, dan sosial, serta keterampilan hidup.
Sekolah Rakyat di Jember hadir sebagai solusi alternatif yang bertujuan memberikan akses pendidikan kepada anak-anak yang terpinggirkan dari sistem pendidikan formal, sehingga diharapkan anak-anak tersebut kelak dapat memutus mata rantai kemiskinan. (Antara)