Foto Story: Penjaga Nyala di Ujung Harapan
Penjaga Nyala di Ujung Harapan--(Rivan Awal Lingga)
Meskipun tubuh mereka lemah karena kanker atau HIV, senyuman anak-anak itu tetap menjadi cahaya kecil yang melawan gelapnya duka. Tyas tahu hidup mereka mungkin tidak panjang tapi bisa tetap bermakna.

--
Maka dia hadir sepenuhnya untuk bermain, tertawa, menangis, bahkan menyuapi cokelat kesukaan sang anak hanya untuk menyaksikan matanya berbinar.
Akhirnya untuk menjaga ketenangan batin, Muti dan Tyas memiliki ritual kecil selama tiga menit untuk melakukan meditasi sebelum mulai bekerja. Sebuah jeda sunyi yang mereka manfaatkan untuk mengosongkan isi kepala dan mengisi ulang hati. Mereka juga mencurahkan isi hatinya kepada rekan sesama perawat paliatif lainnya.
Di dunia yang sering abai pada kehidupan yang segera padam, Mereka juga hadir seperti cahaya kecil yang tak pernah lelah menyala.

--
Tak ada medali yang mereka cari, hanya harapan bahwa di akhir perjalanan, tidak ada jiwa-jiwa yang merasa sendirian. Bahwa hidup betapapun singkat tetap bisa bermakna, tetap bisa indah, tetap bisa utuh. (Antara/Rivan Awal Lingga)