Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Mengapa Sekolah Berbasis Agama Kian Diminati?

Sejumlah pelajar mengikuti ujian semester berbasis online dengan menggunakan android di sekolah pedalaman Madrasah Tsanawiyah Negeri 6 Aceh Barat di Kecamatan Arongan Lam Balek, Aceh, Senin (2/12/2019)-SYIFA YULINNAS-ANTARA FOTO

Paus Fransiskus dalam dokumen Educating to Fraternal Humanism (2017) menekankan bahwa, "Tujuan pendidikan bukan hanya untuk membekali kaum muda dengan keterampilan, tetapi juga untuk membangun dunia yang lebih manusiawi, lebih adil, dan penuh kasih". Pesan ini sejalan dengan keinginan masyarakat terhadap pendidikan yang menanamkan nilai spiritual.

Demikian pula Paulo Freire, tokoh pendidikan dari Brasil, menegaskan bahwa "pendidikan sejati adalah praksis: refleksi dan aksi atas dunia untuk mengubahnya". Pendidikan berbasis nilai, termasuk nilai agama, memungkinkan peserta didik tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab dan berani mengambil sikap etis dalam hidup.

Momen Introspeksi

Tingginya minat terhadap sekolah berbasis agama ini sudah selayaknya tidak dilihat sebagai ancaman terhadap sistem pendidikan nasional, melainkan sebagai "kritik diam-diam" dari masyarakat terhadap minimnya dimensi kemanusiaan dalam sekolah negeri. Negara perlu mendengar suara rakyat ini dengan lebih arif.

Bapak pendidikan bangsa Ki Hadjar Dewantara, telah lama mengingatkan bahwa pendidikan harus menumbuhkan budi pekerti (karakter), pikiran (intelek), dan jasmani anak secara utuh. Prinsip ini kini lebih konsisten dihidupi oleh sekolah berbasis agama, yang merawat nilai-nilai dan spiritualitas sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan.

Pendidikan yang utuh, yang menyentuh aspek akal, hati, dan tindakan, merupakan kebutuhan semua manusia, bukan monopoli satu agama atau sistem tertentu. Sekolah negeri dapat belajar dari praktik baik sekolah berbasis agama, khususnya dalam hal pembiasaan nilai, relasi personal, dan penghayatan spiritualitas hidup.

Saatnya sistem pendidikan nasional memberi ruang lebih besar bagi pendekatan pedagogis yang membentuk manusia seutuhnya, yang mencintai sesama manusia, lingkungan hidup dan Tuhan penciptanya, bukan sekadar urusan administratif dan lulusan berijazah.

*) Pormadi Simbolon adalah Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Banten

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan