Kasus Karhutla di Beltim Meluas Hingga 24 Hektare, BPBD Ungkap Pemicu Utama
Anggota Damkar BPBD Kabupaten Beltim saat berupaya memadamkan kebakaran lahan-Istimewa-
MANGGAR, BELITONGEKSPRES.COM – Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah desa Kabupaten Belitung Timur (Beltim) terus meluas dan menjadi perhatian serius.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Beltim mencatat luasan karhutla telah mencapai sekitar 24 hektare sepanjang Januari hingga 11 Februari 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Beltim, Robbi Yanuar, mengatakan kebakaran lahan tersebut tersebar di enam desa pada beberapa kecamatan di wilayah Beltim. Titik kebakaran terluas berada di Desa Padang, dengan luasan mencapai sekitar 11 hektare.
“Untuk korban jiwa sampai hari ini nihil. Namun jika bicara kerugian material, ada sebagian tanaman sawit milik masyarakat yang terdampak,” ujar Robbi kepada Belitong Ekspres, Kamis (12/2/2026).
BACA JUGA:BPBD Beltim Ingatkan Warga, Puluhan Hektare Lahan Terdampak Karhutla Januari 2026
Menurut data BPBD, mayoritas titik kebakaran terjadi di areal perkebunan serta areal kulong yang selama ini menjadi lokasi masyarakat beraktivitas. Kondisi lahan yang kering serta aktivitas manusia dinilai menjadi faktor pemicu utama.
Robbi menyebutkan, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan diduga kuat menjadi penyebab terbesar munculnya kebakaran lahan di sejumlah titik. Selain itu, praktik membuka lahan dengan cara membakar juga masih ditemukan.
“Kemungkinan terbesar itu dari puntung rokok yang dibuang sembarangan. Karena itu kami mengimbau masyarakat agar lebih sadar dan peduli, jangan bermain api, apalagi untuk membuka lahan,” tegasnya.
BPBD Beltim juga mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan jika menemukan tanda-tanda kebakaran lahan di wilayah masing-masing. Peran perangkat desa dinilai sangat penting dalam pengawasan dan pencegahan dini karhutla.
BACA JUGA:Karhutla Januari 2026 di Beltim Meluas, 23 Hektare Lahan Terbakar di Sejumlah Desa
“Segera beritahu dan libatkan perangkat desa untuk pengawasan. Pencegahan jauh lebih baik daripada penanganan saat api sudah meluas,” pungkas Robbi.
Pemerintah daerah berharap, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan pengawasan bersama, kasus karhutla di Belitung Timur tidak kembali meluas, terutama menjelang musim kemarau.