Pemkab Belitung Timur Perluas Akses Literasi Sejarah Lewat Penyerahan Buku ke UI dan BRIN
Penyerahan buku dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Beltim, Mudiarsono, didampingi Arsiparis Teladan Nasional Republik Indonesia, Woro Hapsari Candra Dewi, Rabu (4/2/2026)-Istimewa-
MANGGAR, BELITONGEKSPRES.COM – Pemerintah Kabupaten Belitung Timur (Pemkab Beltim) menegaskan komitmennya dalam memperluas akses literasi sejarah dan memperkuat pelestarian memori kolektif daerah.
Hal itu diwujudkan melalui penyerahan buku Sejarah Pembentukan Kabupaten Belitung Timur kepada Perpustakaan Prof Dr Yusril Ihza Mahendra Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penyerahan buku dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belitung Timur, Mudiarsono, didampingi Arsiparis Teladan Nasional Republik Indonesia, Woro Hapsari Candra Dewi, Rabu (4/2/2026).
Langkah ini bertujuan memastikan sejarah perjuangan pembentukan Kabupaten Beltim terdokumentasi dengan baik dan dapat diakses oleh kalangan akademisi, peneliti, serta masyarakat luas.
BACA JUGA:Perkuat Transportasi Laut Belitung Timur, Kapal Eks Semarang–Karimunjawa Siap Dihibahkan
Buku tersebut memuat rekam jejak historis proses pemekaran wilayah, dinamika sosial-politik, hingga lahirnya Kabupaten Belitung Timur sebagai daerah otonom.
Kehadirannya di Perpustakaan Universitas Indonesia diarahkan untuk memperkaya referensi akademik, khususnya dalam kajian hukum tata negara, pemerintahan daerah, dan sejarah pembentukan daerah di Indonesia.
Sementara itu, penyerahan kepada BRIN bertujuan mendukung penguatan basis data penelitian nasional. Dengan masuknya buku ini ke lingkungan BRIN, diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah bagi riset, perumusan kebijakan, serta kajian kearsipan dan sejarah daerah.
BACA JUGA:Autentikasi Arsip Digital Jadi Tameng Hoaks, AAI Beltim Perkuat Tata Kelola Dokumen Resmi
Melalui upaya ini, Pemkab Belitung Timur ingin memastikan nilai perjuangan, identitas daerah, dan pengetahuan sejarah tidak hanya terjaga, tetapi juga tersebar luas di tingkat nasional.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat jejaring literasi dan penelitian antar lembaga sebagai bagian dari pembangunan berbasis pengetahuan dan pelestarian arsip sejarah bangsa.