Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Modus Baru Penyelundupan Timah Belitung: Terbongkar dari Aroma Amis Udang Segar

Kamuflase truk udang segar yang memuat sebanyak 6,85 ton timah ilegal di Pelabuhan Pelindo Tanjungpandan, Belitung Kamis (5/2/2026)-Ainul Yakin/BE-

TANJUNGPANDAN, BELITONGEKSPES.COM - Aroma amis dari tumpukan udang segar yang diangkut sebuah truk di Pelabuhan Pelindo Tanjungpandan, Kamis (5/2/2026), ternyata menyimpan rahasia besar.

Di balik bau khas hasil laut itu, tersimpan ribuan kilogram kekayaan alam Kepulauan Bangka Belitung yang hendak dilarikan secara ilegal ke Jakarta.

Upaya penyelundupan "emas hitam" atau pasir timah dari Pulau Belitung seolah menjadi penyakit kronis yang tak kunjung sembuh.

Para mafia tambang terus bermetamorfosis, mencari celah, dan menciptakan modus-modus baru demi mengelabui aparat penegak hukum.

Kali ini, Tim Satuan Lapangan (Satlap) Tri Cakti berhasil membongkar taktik anyar yang tergolong sangat licin untuk mengelabui petugas.

BACA JUGA:BW Suite & BW Inn Belitung Hadirkan Iftar Spesial Ramadhan, Berhadiah Umroh dan Puluhan Doorprize

Sebuah truk yang sekilas tampak seperti armada logistik pengangkut hasil perikanan, ternyata membawa muatan ganda yang bernilai miliaran rupiah.

Sebanyak 6,85 ton timah ilegal ditemukan tersembunyi rapi di bawah tumpukan viber (wadah ikan) berisi udang segar.

Strategi kamuflase ini dirancang sedemikian rupa untuk memanfaatkan celah psikologis pemeriksaan di lapangan.

Biasanya, komoditas pangan basah seperti udang mendapatkan prioritas pemeriksaan yang lebih cepat agar tidak membusuk.

Celah inilah yang coba dimanfaatkan oleh sindikat penyelundup untuk meloloskan barang haram tersebut melewati gerbang utama logistik Pulau Belitung.

BACA JUGA:Tradisi Beruah Desa Perawas Kembali Digelar, Perkuat Silaturahmi dan Lestarikan Adat Melayu Belitong

"Kalau yang ini modusnya truk itu bermuatan udang, namun sebagian isinya ternyata bermuatan timah," ungkap salah satu petinggi Satlap Tri Cakti yang memimpin operasi tersebut.

Sumber tersebut menjelaskan bahwa penggunaan komoditas hasil laut sebagai penutup (cover) dinilai sangat rapi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan