Cegah Stres Kerja, Yayasan Bina Insani Belitung Gelar Edukasi "Burnout" Bersama Dokter Spesialis Jiwa
Yayasan Bina Insani Belitung menggelar kegiatan edukasi kesehatan mental bertajuk “Burnout di Lingkungan Kerja”, pada Sabtu (03/01/2026).-(Ist)-
TANJUNGPANDAN,BELITONGEKSPRES.COM – Yayasan Bina Insani Belitung menggelar kegiatan edukasi kesehatan mental bertajuk “Burnout di Lingkungan Kerja”.
Acara ini dilaksanakan di kompleks SD dan SMPIT Bina Insani Belitung, Air Ketekok, sebagai upaya menjaga produktivitas dan kesehatan mental para tenaga pendidik, pada Sabtu (03/01/2026).
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Yayasan Bina Insani Belitung, Riswanto, S.Pd., M.MPd., dan diikuti oleh sekitar 40 peserta yang merupakan guru PAUD, SD, hingga SMP di bawah naungan yayasan tersebut.
Dalam kesempatan ini, Yayasan Bina Insani menghadirkan narasumber ahli, yakni dr. Ngestituti Pramusita, Sp.KJ, dokter spesialis jiwa dari RSUD Marsidi Judono Belitung.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Sabtu: Turun Rp16.000, Kini Rp2.488.000 per Gram
Dalam paparannya, dr. Ngestituti menjelaskan secara mendalam mengenai pengertian, penyebab, hingga langkah-langkah praktis mengenali dan mengatasi burnout di tempat kerja.
“Burnout merupakan sindrom kelelahan fisik dan mental berkepanjangan akibat stres emosional serta hubungan interpersonal di lingkungan kerja. Kondisi ini sangat rentan dialami oleh tenaga pendidik,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Bina Insani, Riswanto, berharap melalui pelatihan ini para pengajar mampu memanajemen dan mengelola stres kerja dengan lebih baik.
"Tujuannya agar guru-guru kita memiliki resiliensi atau ketangguhan mental. Jika kesehatan mental terjaga, tentu akan berdampak positif pada kinerja dan kualitas proses pembelajaran siswa di kelas," ujarnya.
BACA JUGA:Bulog Targetkan Penyaluran 720.000 Ton Beras Tahun 2026
Selain bagi tenaga pendidik, materi mengenai penanganan burnout ini dinilai sangat relevan bagi karyawan di sektor lain, baik ASN maupun swasta, terutama dalam menghadapi tantangan kerja di era globalisasi yang semakin kompleks.
Dengan adanya pembekalan ini, diharapkan para pengajar di lingkungan Bina Insani dapat terhindar dari kelelahan fisik dan mental, sehingga lingkungan sekolah tetap menjadi tempat yang sehat dan inspiratif bagi para murid.***