Sementara itu, Dexa Medica mulai memperkuat riset farmasi presisi dan biomolekuler. Sementara, Prodia serta Nalagenetics aktif mengembangkan layanan genomik, molecular diagnostics, dan farmakogenomik berbasis profil genetik pasien untuk mendukung pengobatan yang lebih personal dan tepat sasaran. Penguatan ekosistem ini menunjukkan bahwa fondasi menuju terapi gen dan ATMP nasional mulai terbentuk secara nyata di Indonesia.
Karena itu, masa depan kesehatan tidak dapat dibangun dengan pendekatan sektoral yang berjalan sendiri-sendiri. Konsep Academia-Business-Government (ABG) harus menjadi fondasi utama pengembangan terapi gen nasional. Akademisi menghasilkan inovasi, industri melakukan hilirisasi dan investasi, sementara pemerintah dan regulator memastikan hadirnya sistem regulasi yang adaptif, kredibel, dan tepercaya.
BACA JUGA:Menjaga Daya Beli Rumah Subsidi di Tengah Kenaikan BI Rate
Negara yang akan memenangkan era terapi gen bukanlah negara yang paling besar, tetapi negara yang paling cepat membangun kolaborasi dan keberanian berinovasi. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan bioteknologi kesehatan di Asia Tenggara.
Tantangannya, kini, adalah bagaimana seluruh elemen bangsa bergerak bersama membangun ekosistem kesehatan masa depan yang berbasis sains, inovasi, dan keberanian mengambil peran global.
Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam revolusi kesehatan dunia. Saatnya menjadi pemain utama yang mampu menghadirkan inovasi, regulasi, dan diplomasi kesehatan berbasis sains di tingkat global. Pengukuhan saya sebagai Adjunct Professor of Pharmacology di UTMSPACE menjadi simbol meningkatnya pengakuan internasional terhadap peran Indonesia dalam pengembangan terapi gen, terapi sel, dan bioteknologi kesehatan modern di kawasan Asia Tenggara.
Oleh: Prof dr Taruna Ikrar, M Biomed., PhD, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia