Maka saya pikir ulang: mungkin bentuknya bukan merger. Mungkin saja yayasan itu ingin membubarkan diri. Lalu menghibahkan seluruh asetnya ke PT Agrinas Pangan Nusantara.
Anda sudah tahu: yayasan itu kalau bubar (atau dibubarkan) memang tidak boleh membagi kekayaannya ke pengurus, anggota, atau ke swasta. Kekayaan itu harus diserahkan ke negara.
Mungkin Agrinas Pangan Nusantara dianggap memenuhi syarat mewakili negara. Toh perushaan itu 100 persen milik negara.
Rasanya itu jalan yang baik. Di masa lalu banyak angkatan memiliki yayasan bisnis. Sejak reformasi yang seperti itu tidak boleh lagi. Tapi bahwa jalan keluarnya lewat penyatuan ke perusahaan milik negara baru dengar sekali ini.
Setelah diangkat menjadi dirut PT Agrinas Pengan Nusantara, Joao mengirim rencana kerja ke Danantara. Saya tidak tahu apa saja rencana kerjanya. Tahu-tahu tersiar berita besar: Joao mengundurkan diri. Ia merasa tidak amanah. Tidak bertanggung jawab. Menjadi dirut tidak kerja apa-apa. Sudah enam bulan menganggur. Tidak ada rencana kerja yang sudah disetujui. Ia pilih mundur.
Bahwa ia secara terbuka mengumumkan sikapnya itu, mungkin karena ia merasa itulah satu-satunya cara curhat ke Presiden Prabowo. Tentu ia ingin mengadukan nasibnya itu langsung ke Prabowo. Ia mungkin tidak menemukan jalan menuju istana. Juga tidak etis, masak dirut anak perusahaan menghadap presiden. Kan bisa secara pribadi? Mungkin ia juga tidak menemukan jalan menuju Hambalang.
Maka ia putuskan: ngambek lewat media saja.
Ampuh.
Tukang khayal seperti Anda mungkin bisa berimajinasi apa saja yang terjadi setelah Presiden Prabowo tahu soal heboh pengunduran diri itu. Tentu presiden tidak bisa seperti saya yang pura-pura tidak tahu bahwa istri sedang ngambek. Pun mungkin saja istrinya dulu tidak pernah ngambek.
Yang jelas, akhirnya Joao dipertahankan sebagai dirut PT Agrinas Pangan Nusantara. Bahkan mendapat pekerjaan yang luar biasa: menangani pengadaan seluruh bangunan kantor, gudang, dan gerai Koperasi Desa Merah Putih se-Indonesia.
Termasuk pengadaan kendaraan truk, pikap dan akhirnya nanti setiap koperasi harus dilengkapi sepeda motor (simak Dismorning 26 Februari 2026 di channel YouTube DI's Way). Satu truk, satu pikap, satu sepeda motor. Sungguh peluang bisnis baru.
Saya pun akhir tahu: PT Agrinas Pangan Nusantara memang punya hubungan hukum dengan Koperasi Desa Merah Putih. Berarti bahwa Joao membeli mobil pikap sebanyak 105.000 dari India itu atas penugasan koperasi.
Maka ilmu manajemen dan bisnis harus memperbaiki teori-teorinya: mengapa selama ini tidak mengajarkan teori ngambek dalam literaturnya. (Dahlan Iskan)